Wanita Berkemas dengan Harga Diri Mereka

Penulis: Muhammad Ilham Pratama

Sebuah peradaban besar hadir ketika kita membahas manusia terkhusus perempuan. Banyak paradigma mengenai mereka berseliweran, menimbulkan berbagai pertanyaan dan misteri yang belum terpecahkan hingga kini. Kedudukan perempuan sendiri mengalami perkembangan panjang, tapi secara umum masyarakat modern hanya mengetahui konsep marginalisasi perempuan. Konsep yang memberatkan serta mengerdilkan perempuan tersebut, tak pernah usai menjadi topik hangat pada era sekarang.

Sebagai tonggak kehidupan, perempuan perlahan mulai menyadari posisi mereka. Olehnya, mereka berusaha untuk bangkit dan melawan konsep yang merugikan hakikat diri mereka sendiri. Feminisme atau gerakan juga upaya dalam melawan marginalisasi perempuan terus digemakan. Sekitar tiga gelombang sudah dilewati oleh para perempuan untuk menyuarakan gerakan ini, dengan agenda yang berbeda di setiap fasenya. Sayangnya, belum ampuh untuk menghapus seluruh akar dan ketimpangan sosial permasalahan tersebut.

Secara general tulisan ini tidak akan berfokus membahas tentang permasalahan perempuan dan isu feminisme secara mendalam. Akan tetapi, berusaha untuk mengajak pembaca berpikir mengenai beberapa hal yang mungkin terlupakan, tidak hanya dari sudut pandang khusus perempuan, tapi juga laki-laki. Berusaha untuk menjabarkan kelebihan serta kekurangan perempuan. Di sisi lain juga menghadirkan beberapa kompleksitas perempuan dan bias pemahaman yang berulang, agar setidaknya dapat menyegarkan pemahaman kita bersama.

Sebelum itu perlu pemahaman mendasar bahwa sebelum terjadi konsep patriarki, atau laki-laki sebagai pemegang kekuasaan dalam rumah tangga. Terjadi beberapa fase, salah satunya adalah fase perempuan sebagai pemegang kendali dari rumah tangga atau matriarkat. Fase ini terjadi ketika masyarakat primitif. Kala itu laki-laki dibebankan pekerjaan berburu, sedang perempuan tinggal dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan dibanding dengan laki-laki. Perempuan menenun pakaian untuk digunakan, menjaga sarang, bahkan ketika laki-laki pulang tanpa hasil buruan, para perempuan akan menggunakan hasil perkebunan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Menurut buku yang ditulis oleh David C. Gray (Human and Sex) ketika era primitif berlangsung, perempuan memiliki poin adaptif lebih baik ketimbang laki-laki. laki-laki hanya dapat fokus pada satu hal, berbeda dengan perempuan yang dapat mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu (multitasking). Selain itu, perempuan juga mampu beradaptasi dengan berbagai hal baru secara cepat juga mampu mengekspresikan diri lebih baik ketimbang para laki-laki, dan ini menjadi poin plus mereka.

Akan tetapi, ketika kita berpindah ke masyarakat modern, mereka mulai dianggap sebelah mata. Hal ini menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagi kita semua. Apakah perempuan mulai berevolusi mundur? Atau bentuk patriarki itu dikarenakan laki-laki takut akan potensi perempuan? Secara tidak sadar, laki-laki pun mencoba untuk unggul dari perempuan dengan berbagai cara, mulai dari memarginalkan, menganggap mereka sebagai mesin penghasil anak, dan masih banyak lagi. Lalu, Perlu disadari ketika para laki-laki memutuskan untuk melawan gerakan matriarkat, ada spirit yang dibawa untuk melawan gerakan tersebut. Dan spirit itu yang membawa kita semua hingga sekarang, adalah ego sosial yang masih sulit dihadapi, karena laki-laki terlalu kaku terhadap perubahan. Berbeda dengan perempuan yang dilahirkan secara adaptif, mereka secara terpaksa dapat menerima spirit tersebut. Dan melanggengkan gerakan patriarki.

Lantas ketika perempuan mulai untuk menghilangkan spirit itu, ada ketidakseimbangan spirit. Tumpang tindih mengenai apa yang sedang mereka bawakan terkadang terjadi. Para perempuan kurang mengetahui kekuatan mereka tersendiri, juga faktor pengaruh dari laki-laki untuk coba mengeliminasi gerakan ini, maka solusi dari hal itu adalah perempuan perlu tahu akan kekuatan diri mereka sebelum menggerakkan spirit dalam melawan patriarki.

1. Perempuan dan Kekuatannya

Pertama, stabilitas emosi yang lebih baik dibanding laki-laki. Menurut pusat data psikolog, perempuan lebih baik dalam mengelola emosinya dibanding laki-laki. Hal ini juga disokong dengan Jurnal Psikologi Sosial 2017 oleh Fakultas Psikologi di UI, mengatakan secara umum laki-laki mempunyai kecenderungan yang sama dengan perempuan bila terkait emosi dari internal ke reaksi.

Sedangkan untuk emosi yang sifat reaksi ke internal, ada perbedaan dan tentu perempuan lebih baik. Kesimpulan yang dihasilkan adalah secara regulasi emosi, perempuan lebih baik ketimbang laki-laki

Kedua, empati juga keterampilan sosial lebih mumpuni. Buktinya dapat kita jumpai di kehidupan sehari-hari, contoh ketika mendapatkan guru perempuan, terkadang kita lebih terbuka dan nyaman untuk menceritakan permasalahan hidup terhadap mereka. Sebab guru laki-laki biasa terkesan lebih kaku dan susah diajak bicara. Dari sini, para perempuan dituntut untuk menyadari kelebihan ini dan memanfaatkannya.

Ketiga, kemampuan multitasking yang mumpuni. Secara fakta, kita sadar bila laki-laki sangat lihai dalam hal titik fokus, tapi bila diberikan banyak pekerjaan dalam suatu waktu, laki-laki cenderung stres dan tidak bisa untuk menyelesaikannya. Dan semisal dapat diselesaikan, akan banyak pekerjaan yang kurang maksimal. Berbeda dengan perempuan yang lebih terampil saat menggunakan kognitif mereka untuk mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Menariknya sering kali mereka bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan sangat baik.

Keempat, keterampilan bahasa lebih lihai. Disokong oleh keterampilan sosial yang mumpuni, ternyata secara bahasa wanita lebih adaptif daripada laki-laki. Membuat mereka akan cepat menangkap maksud dari sebuah kata.

Fakta tersebut dapat kita te pada Jurnal “Perbedaan Struktur Otak dan Kemampuan Bahasa antara Perempuan dan Laki-Laki” oleh Kimura dan Harshman (1994) dalam jurnal Neuroscience.

Kelima, proses regenerasi sel yang lebih cepat dari laki-laki. Hal tersebut jarang disorot oleh sebagian masyarakat, bahwa secara kekuatan laki-laki lebih kuat, tapi secara penyembuhan dan ketahanan pada rasa sakit perempuan jauh lebih baik. Mungkin fakta ini hanya disadari oleh para tenaga kesehatan dan juga para ahli seni bela diri. Contoh saat membaca komik mengenai seni bela diri jiu-jitsu, kita memahami bahwa perempuan lebih lentur dan mudah untuk mempelajarinya, dan tidak hanya satu sumber saja, tapi berbagai. Maka dapat disimpulkan bahwa perempuan baik secara regenerasi sel.

Masih banyak lagi kemampuan perempuan dibandingkan laki-laki. Akan tetapi bukan berarti menunjukkan bahwa mereka adalah sesuatu yang berbeda dengan laki-laki. Hanya saja ini diberikan agar perempuan sadar akan nilai mereka. Dalam artian, sebelum membawa spirit yang bisa melawan arus patriarki, mereka terlebih dahulu harus mengenal diri mereka secara keseluruhan.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa kelebihan ini tidak selalu sama dengan individu yang lain, hanya bersifat banyak secara kuantitas saja. Selain dari permasalahan dalam mengenal diri sendiri, ternyata spirit feminisme serta konsep patriarki memiliki kerancuan. Beberapa dipaparkan hanya sebagai pemantik untuk menelusuri lebih dalam.

2. Kerancuan pada Feminisme serta Konsep Patriarki

Setelah menganalisis permasalahan terhadap patriarki, ada sebuah kesimpulan yang bisa kita rasakan bersama. Bahwa konsep ini bukan keliru, akan tetapi tidak dipahami secara baik. Lebih tepatnya, ada perbedaan pandangan terhadap konsep tersebut. Dapat disaksikan dengan konsep feminisme yang berubah-ubah menyesuaikan zaman.

Sedangkan patriarki yang dilakukan tetap berdiri tegak dengan bersandar pada satu kepercayaan; laki-laki adalah pemegang kekuasaan yang mutlak. Penyebab salah memaknai dari arti tersebut menciptakan kerancuan terhadap pola pikir masyarakat secara luas.

Kurang lebih ketika sosial menganggap perempuan hanya sebagai masyarakat kelas bawah, maka subordinasi adalah hal yang benar. Padahal pembicaraan perihal patriarki, laki-laki akan diibaratkan sebagai pemimpin. Selayaknya pemimpin, maka ia adalah seorang yang benar-benar kapabel untuk menyandangnya, atau yang dapat menjadi panutan. Lantas, dalam benak kita pasti setuju, bahwa tidak ada manusia yang ingin dikepalai oleh penguasa yang semena-mena.

Oleh karena itu, patriarki dipahami sebagai konsep yang salah, tanpa menyadari permasalahan tersebut ada di individu. Adapun patriarki hanya sebagai faktor eksternal saja.

Selain salah secara penerapan dan konsep, diperparah dengan sikap perempuan yang hanya pasrah. Menimbulkan ketimpangan yang terus tumbuh serta berakar menjadi budaya, dan tentu sulit untuk dihilangkan. Oleh karenanya spirit feminisme tidak berhasil untuk menyaingi patriarki. Dan tak heran, sampai sekarang meski feminisme sangat gencar, tapi masih banyak saja orang-orang konservatif yang tidak mau menerima konsep tersebut.

Dan tak heran, sampai sekarang meski feminisme sangat gencar, tapi masih banyak saja orang-orang konservatif yang tidak mau menerima konsep tersebut.

Feminisme sendiri, di lain sisi turut membawa kepentingan politik, tidak hanya untuk menyadarkan laki-laki. Terkadang para demonstran terlihat membawa standar ganda yang menjadi mereka agungkan. Ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi kaum lelaki khususnya. Contoh, apakah setara tersebut adalah semua aspek atau hanya yang memberikan kenyamanan bagi diri mereka saja? Apakah yang sekadar diinginkan oleh perempuan hanya kebebasan atau agar mereka terlepas dari tugas mereka?

Perempuan sendiri memang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah yang otomatis lebih banyak serta perlu pengerjaan yang multi dibanding hanya fokus pada satu. Artinya bukan untuk menunjukkan bahwa perempuan hanya boleh untuk kembali menjadi ibu rumah tangga. Akan tetapi menyadarkan mereka bahwa kemampuan mereka lebih efektif untuk hal yang multi. Dan tidak ada larangan terhadap mereka ketika hanya ingin mengambil satu pekerjaan saja.

Kembali lagi, meski konsep patriarki dan juga feminisme tidak benar-benar selesai dan tuntas. Perlu kita kembalikan bahwa salah satu alasan perempuan tetap mengupayakan suara tetap bergema, agar kita semua sadar bahwa ruang publik serta berbagai hak juga patut untuk diberikan kepada perempuan. Meskipun seperti itu, tetap ada cara-cara lebih efektif untuk mencapainya. Dan tentu tidak bisa hanya mengandalkan semangat saja untuk memberantas tersebut, perlu kesadaran dan juga taktik, sama seperti pola penghilangan matriarkat terdahulu.

Lalu adapun konsep ini sebagai pemantik perempuan, agar mereka benar-benar mengerti akan diri mereka sebelum membawa dan menyuarakan semangat mereka. Oleh karenanya, perlu untuk disadari dari awal, bahwa perempuan tidak lemah. Hanya saja, mereka kekurangan taktik. Selain itu, perempuan jua melawan pemikiran stigma pemikiran sosial yang menyalahkan tindakan mereka. Entah karena sudah nyaman dengan konsep yang lama, ataupun masih tidak paham dengan apa yang coba para perempuan perjuangkan. Tulisan ini hadir sebagai bentuk harapan untuk kita lebih memperhatikan lagi isu tentang para perempuan.

 

Tulisan ini pertama kali dimuat di Buletin Al-Harf edisi ketiga yang bertajuk Perempuan dalam Spektrum Sosial; Antara Stigma dan Realita.

Related Posts

Mengapa Rasulullah saw. Lahir di Arab, Bukan dari Romawi atau Persia

Penulis: Ramdanil Syaril Palkan Bulan maulid hadir dengan berbagai perayaan yang diadakan mayoritas muslim di dunia, terlepas dengan berbagai pro-kontranya, perayaan maulid Nabi Muhammad saw. biasanya diisi dengan berbagai macam…

Baca seterusnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *