Penulis: Ramdanil Syaril Palkan
Bulan maulid hadir dengan berbagai perayaan yang diadakan mayoritas muslim di dunia, terlepas dengan berbagai pro-kontranya, perayaan maulid Nabi Muhammad saw. biasanya diisi dengan berbagai macam amalan seperti: majelis selawat, kajian keislaman, atau membaca serta mengkaji perjalanan hidup Rasulullah saw. yang biasanya disampaikan sebagai hikmah maulid.
Dalam perayaan maulid Nabi saw. sirah Rasulullah merupakan topik yang selalu menarik untuk dibahas, karena selain beliau merupakan tuntunan bagi umat Islam, juga merupakan pembaharu yang memberi teladan, mencakup segala aspek kehidupan. Tentunya tidak hanya membawa angin segar di lingkungan masyarakat Arab jahiliah saat itu, namun risalah beliau telah melahirkan banyak tokoh besar yang masih sangat berpengaruh sampai saat ini. Tidak heran kemudian jika hal ini juga mendapat respon dari para pemikir Barat, tidak terkecuali para tokoh anti Islam yang banyak melemparkan stigma negatif kepada Islam dan Rasulullah saw.
Salah satu tuduhannya seperti yang dilontarkan Pastor Bede dari Inggris bahwa Nabi Muhammad tidak lebih dari manusia padang pasir yang buta huruf, dengan status sosial yang rendah dan lain sebagainya. Hal ini karena beliau berasal dari tanah Arab yang notabenenya tidak tersentuh oleh peradaban besar, dan masyarakat yang ummi. Namun bukan tanpa sebab Allah swt. mengutus Rasulullah saw. dari wilayah Arab yang pada saat itu berada di tengah-tengah imperium besar seperti Romawi, Persia, India dan Yunani.
Syekh Ramadhan Al-Buthi dalam bukunya Fiqh As-Sirah An-Nabawiyah Ma’a Mujazin Litaariikh Al-Khilafat Ar-Rasyidah mengemukakan, bahwa bangsa Arab di wilayah Rasulullah saw. diutus masih tenang, bahkan jauh dari kekacauan bangsa besar di sekitarnya. Hal tersebut menjadikan masyarakat itu tidak memiliki kebiasaan bermewah-mewahan seperti Persia yang mengalami kemerosotan moral dengan mengatasnamakan agama. Tidak juga memiliki tirani militer seperti Romawi yang membuat mereka berambisi menguasai daerah lain, atau kekayaan filsafat seperti Yunani yang menjadikan mereka tenggelam dalam mitos dan khurafat.
Tabiat bangsa Arab menurut syekh Ramadhan Al-Buthi, lebih seperti bahan mentah yang belum bertransformasi dalam bentuk apapun, sehingga fitrah manusia yang sehat masih nampak jelas, dengan kecenderungan melakukan hal-hal yang terpuji seperti kesetiaan, tolong-menolong, kemurahan hati dan menjaga kesucian diri. Namun mereka tidak memiliki pengetahuan yang dapat menunjukkan jalan yang benar, sehingga mereka tenggelam dalam ketidaktahuan. Hal inilah yang membuat mereka tersesat dari nilai-nilai kemanusiaan, seperti ; membunuh anak perempuan demi kehormatan dan kesucian, serta membunuh satu sama lain demi mempertahankan harga diri.
Terlepas dari kesesatan bangsa Arab atas ketidaktahuan mereka, menurut Imam Abdul Hamid Al-Farahi dari India, ada dua sifat utama bangsa Arab yang menjadi dasar bagi segala sumber kebaikan, yaitu kejujuran dan kedermawanan. Jika dibandingkan dengan bangsa lain pada abad ke 6-7 M (semasa saat Nabi saw. diutus), akan didapati fakta, bahwa mayoritas masyarakat saat itu hidup dalam serba keburukan, bahkan peradaban maju saat itu seperti Romawi dan Persia tidak memiliki dua sifat tersebut. Sementara menurut ulama Abu Hasan An-Nadwi yang juga dari India, masyarakat Arab pada saat itu memiliki jiwa yang relatif bersih dan belum ternodai dengan ide-ide buruk yang tertancap sehingga sulit dihapus.
Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury juga mengemukakan dalam bukunya Al-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun fii As-Siirati An-Nabawiyyati, karakter mulia seperti dermawan, menepati janji, menjaga harga diri, menjauhi kezaliman, berkemauan kuat, jujur dan amanah menjadi faktor terpilihnya bangsa Arab sebagai generasi pertama penerima dakwah Islam untuk menyebarkan ke penjuru dunia. Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri kejahilan mereka saat itu juga mengundang berbagai keburukan.
Karena kejahilan dan kesesatan mereka, Rasulullah saw. diutus di tengah-tengah mereka, membawa tuntunan untuk memperbaiki moral mereka yang menyimpang, di samping karena karakter mereka yang luhur, bahkan masih ada di antara mereka yang menganut agama Hanif dari Nabi Ibrahim as. Sehingga Allah swt. mengutus Rasulnya dari bangsa yang ummi agar tidak ada yang mengingkari kerasulan beliau karena banyaknya sebab-sebab keraguan, seperti tuduhan bahwa beliau meniru ajaran agama Samawi sebelumnya.
Selain pertimbangan moral bangsa Arab, letak geografis wilayah Rasulullah saw. diutus juga sangat strategis yang berada di antara peradaban besar, sehingga menjadikan dakwah Islam dapat dengan mudah tersebar di berbagai penjuru bangsa dan negara, yang mana di barat ada Romawi dan Persia sedangkan di timur ada India dan Cina.
Demikianlah hikmah Allah swt. menetapkan Islam lahir di tanah Arab bukan di Romawi atau Persia yang merupakan peradaban besar dimana jiwa masyarakatnya sudah ternodai dengan moral yang buruk. Seperti Persia yang membolehkan pernikahan antar anak dengan ibu atau saudarinya, atau Romawi dengan ambisinya dalam penjajahan bahkan tenggelam dalam perselisihan agama di antara mereka, hingga akhirnya memanipulasi agama Kristen, yang kemudian menjadikan mereka tenggelam dalam kemerosotan moral seperti Persia.
Catatan:
Tulisan ini pertama kali dimuat pada September 2023, di Buletin Al-Harf edisi pertama yang berjudul Refleksi Bulan Maulid Baginda Muhammad Shallalahu Alaihi Wasallam.



