Penulis: Wais Al-Karni AK
Jika kau luang malam ini
tengoklah aku sejenak.
Aku sedang memeliharamu
di antara kelap kelip bintang
yang kulukis dalam keramaian kepalaku,
ramai akan namamu.
Aku ingin memamerkan padamu
lukisan malam penuh bintang itu,
yang aku gambar dengan krayon
serta sebuah pensil.
Warna-warni krayon tersebut
hidup dan menjadi hati,
sedang pensil adalah goresan
hati yang terus menyebut namamu.
Atau dengarkan saja andaianku
“Ketika kita duduk di teras rumah
menatap senja yang kian lama
berselimut gelap.
Jika gelap itu menghantuimu
bongkar saja ketakutanmu,
lalu tumpahkan di pundakku.
Pundakku masih kuat menerima
gelap tersebut.”
Kenyataan membalikkan suasana,
mengunci lisanku, sedang kau pun
hanya bayangan belaka.
Hidup tidak ada lagi.
Mata yang hanya diam
ternyata melihat krayon serta pensil
warna kemarin, sudah habis.
Yang tersisa hanya gambarnya.
Sekali lagi, hanya gambarnya.
Tulisan ini pertama kali dimuat di Buletin Al-Harf edisi ketiga yang bertajuk Perempuan dalam Spektrum Sosial; Antara Stigma dan Realita.





