Penulis: Abel Oktaviana
“Hantu”
Malam datang lagi. Ia tidak sendiri, ia ditemani dengan
pertanyaan-pertanyaan kemarin yang membuatku menjadi sesak.
Dari beberapa pertanyaan-pertanyaan itu, dirimu terlintas.
Dan tahukah engkau, bahwa itu sangat menggangguku.
Kali ini pagi, aku duduk di meja makan sembari menyantapi
sarapan. Kulihat ada sosok dirimu di kursi kosong yang ada di
hadapanku. Dan tahukah engkau, bahwa itu membuat air mataku
tumpah.
Aku berada di tengah kebingungan, mempertanyakan mengapa
sosok dirimu selalu menghantui pikiranku?
“Anak yang Kehilangan Tangan Kirinya”
Aku adalah anak yang kehilangan tangan kirinya. Di mana dengan
tangan kananku, aku membantu ibu mengusap-usap punggungnya
yang sudah lelah karena memeras keringatnya.
Lahir ke dunia bukanlah pilihanku. Menjadi anak yang kehilangan tangan
kirinya juga bukan pilihanku. Apakah ini sudah menjadi takdir untukku?
Berada di sekitar orang-orang yang dilengkapi dua tangan, selalu
membuatku merasa sesak, nangis dalam kesunyian, dan berpura-pura
kuat di depan banyak orang. Tawa yang selalu aku jadikan perban untuk
menutup lukaku yang aku pun tidak tahu kapan sembuhnya,
menuntunku untuk menjadi anak perempuan yang harus berdiri di atas
kakinya sendiri.
Kemarin aku mencoba mencari-cari keberadaan tangan kiriku. Apakah
dia sudah menemuakn tubuh baru? Sedangkan di sini, tubuh lamanya
masih lumpuh. Mungkin saja dia sudah melupakannya. Akan tetapi,
harapku penuh ia tidak melupakannya.
Tertandai aku gadis yang masih membutuhkannya.





