Salahkah Menjadi Individu Perasa?

Penulis: Asma Melani & Azisa Amal

“Secerdas-cerdasnya perempuan ketika sudah menggunakan perasaanya, maka hilanglah akal sehatnya.”

Pernyataan di atas tentu sangat familiar di telinga kita, terlepas dari pro dan kontranya. Tak jarang kita dapati stigma terhadap perempuan sebagai makhluk baperan dikarenakan kerap kali mengedepankan emosi dan perasaan di beberapa tindakannya. Pun dalam persoalan hubungan percintaan perempuan sering dianggap terlalu “berperasaan” dan “emosional”.

Begitu pula dalam hukum Yunani kuno: perempuan dipandang hanya sebatas “pembantu rumah tangga”, dalam artian perempuan hanya pantas berada di ranah domestik yang berwatak feminim, lemah, lembut, dan emosional. Sebaliknya laki-laki, berada di ranah publik.

Laki-laki sering kali dianggap sebagai makhluk logika, sedangkan perempuan makhluk perasa. Padahal logika dan perasaan keduanya merupakan modal utama manusia dalam berkehidupan, berkembang, dan berkontribusi di lingkungannya.

Dikarenakan banyaknya persepsi tentang perempuan sebagai makhluk perasa, maka sering kali banyak di antara mereka yang ikut menerima penilaian tersebut, bahwa perempuan tidak cukup baik dalam berkontribusi di beberapa posisi publik baik dalam organisasi, maupun pekerjaan. Pemakluman ini timbul karena tingginya kekhawatiran mereka dalam mengedepankan perasaannya dibanding logikanya, yang membuat perempuan akan menyulitkan dirinya sendiri, bahkan bisa saja menyulitkan orang lain.

Dengan adanya stigma tadi yang rasanya mengerdilkan perempuan, maka kami selaku penulis ingin menghadirkan tulisan ini sebagai penawarnya.

Mengutip dari kitab Al-Insan Musayyar am Mukhayyar oleh Syeikh Ramadhan Al-Bhuti bahwa cinta, bahagia, galau, depresi, takut dan emosi-emosi lainnya merupakan beberapa reaksi emosional yang tidak lepas dari manusia. Dimana reaksi ini bersifat paksaan, dalam artian manusia tidak punya kendali di dalamnya, baik perempuan maupun laki-laki.

Namun, di beberapa kasus perempuan sering ditemukan bertindak bodoh karena mengedepankan perasaan dibandingkan logika yang berimbas sulitnya mereka dalam berpikir lurus. Misalnya saat sedang jatuh cinta. Secara ilmiah, menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Helen Fisher yang dikutip dari laman liputan6.com, bahwa ketika seseorang sedang jatuh cinta, tubuhnya akan memproduksi beberapa hormon seperti oksitosin, dopamin, norepinerin dan siratonin. Jadi, dalam keadaan seperti ini tubuh dengan segala usahanya berusaha menguasai diri untuk terus memproduksi hormon-hormon tersebut.

Faktor lainnya, bahwa sebuah penelitian mengungkapkan bahwa otak perempuan berbeda dengan laki-laki, dimana otak perempuan dinilai lebih aktif. Yang menyebabkan perbedaan perilaku dan respon di antara keduanya. Dalam ilmu psikologi ada istilah EF yang merupakan singkatan dari Ein fuhlung yang berarti sifat perasa yang dalam. Maka, tak jarang kita temui perempuan memiliki intuisi dan empati yang lebih kuat, responsif, emosional dan mudah terpengaruh bahkan terkadang subjektif. Akan tetapi perlu kita garis bawahi, bahwa faktor tersebut tidaklah mutlak.

Dari labelisasi tersebut apakah perempuan justru mempersulit keadaan dengan sisi perasanya yang begitu kuat?

  1. Keunikan Perempuan sebagai Individu Perasa

Di balik sifat perasanya, perempuan memiliki keunikan dalam mengola perasaan tersebut, dimana mereka memiliki kemampuan empati yang sangat baik dan mampu menerima dan memaafkan berulang kali. Perempuan juga memiliki rasa kepedulian yang tinggi dan kepekaan terhadap sekitarnya yang merupakan dampak dari kemampuan berempatinya. Seorang Psikoanis Feminis pertama Sabina Spielrein, mengungkapkan bahwa empati dan kepedulian memang merupakan keutamaan jiwa perempuan. Perempuan dengan kepekaaannya mampu memahami pesan-pesan non verbal dan mengerti ciri-ciri orang yang sedang bahagia, sedih atau patah hati.

Kepedulian tersebut membuat perempuan lebih tegar, cepat bangkit dan pulih saat menghadapi masalah. Maka dari itu tidak diragukan perempuan dengan segala keunikannya mampu membawa orang-orang di sekitarnya kepada keharmonisan sebuah ikatan baik dalam lingkup keluarga, pertemanan, organisasi maupun pekerjaan.

Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS, sosok perempuan yang memiliki kiprah yang hebat, baik domestik dan publik menegaskan bahwa peran perempuan lebih strategis dalam mewujudkan ketahanan keluarga dan masyarakat bila berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan agama.

Apakah benar perempuan saat menggunakan perasaanya, maka hilanglah akal sehatnya?

  1. Perempuan sebagai Individu Logika

Perempuan sebagai individu perasa tidak hanya melulu berada di ranah domestik. Bisa kita lihat praktek politik dan hukum saat ini mulai banyak digeluti oleh kaum perempuan, dimana ilmu dan profesi ini tentunya menuntut pada logika yang sehat. Tak jarang juga kita temui beberapa perempuan yang berperan penting dalam menyuarakan keadilan dan kesejahteraan.

Dalam dunia kehakiman atau aparat penegak hukum pun, perempuan saat ini banyak berkontribusi di bidang tersebut. Di bidang kepemimpinan, kita dapati di dalam Al-Quran dengan tegas memberikan kesaksian bahwa seorang perempuan bernama Ratu Balqis mampu memimpin kerajaan Saba’ dengan sangat baik, sehingga Al-Quran menyifati kerajaannya dengan istilah “yang agung dan hebat”. Dalam bidang bisnis, bisa kita lihat Ummul Mukminin Sayidah Khadijah istri Rasulullah Saw. seorang pebisnis sukses di zamannya.

Hal di atas membuktikan bahwa perempuan sebagai makhluk perasa tentu bisa improve di suatu bidang termasuk berkontribusi di ranah publik dengan mengupayakan potensinya terlepas dari label yang melekat pada dirinya.

Bagaimana Islam memandang sifat perasa yang ada pada perempuan?

  1. Perempuan sebagai Individu Perasa dalam Islam

Disebutkan dalam suatu riwayat dari  Abu Hurairah R.A. Rasulullah Saw. bersabda: “Berwasiatlah pada wanita dengan baik, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kau mencoba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, justru kau mematahkannya. Namun bila kau membiarkannya maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita dengan baik.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki memiliki isyarat kiasan atau majaz karena anatomi tulang rusuk manusia normal terdiri dari 12 pasang tulang, baik perempuan maupun laki-laki tanpa ada yang kurang. Adapun makna yang terkandung dalam hadis, bahwa perempuan memiliki karakter yang berbeda dari laki-laki, yaitu dimana perempuan memiliki kelembutan yang sifatnya lebih dalam atau yang kita sebut dengan perasa.

Nabi Muhammad Saw ingin menyampaikan kepada kita melalui hadits tersebut, bahwa perempuan lembut dan sangat perasa, jika mereka melakukan kesalahan maka berhati-hatilah saat menasehati atau menegurnya, jika terlampau keras maka tulang rusuk tersebut akan patah. Ini menjelaskan kepada kita bahwa syariat sendiri mengakui karakter perasa sangat melekat pada perempuan.

Eti Nurhayati, dalam Psikologi Perempuan dalam berbagai Perspektif Edisi dua, menjelaskan bahwa perempuan seringkali mendapatkan citra sebagai makhluk perasa, mudah menyerah, pasif, subjektif, mudah terpengaruh dan lemah. Sedangkan laki-laki seringkali mendapatkan citra sebagai makhluk yang rasional, logis, kompetitif, mandiri objektif, agresif, dan aktif. Namun citra bias gender tersebut tentu bukan pemberian (Given) dari kodrat (Nature), melainkan karena lingkungan dan budaya mayarakat (Nurture) yang mengasumsikannya demikian meski nyatanya tidak selalu demikian.

Warren Buffett, seorang investor dan pebisnis besar dari Amerika yang lahir di tahun 1930, mengatakan salah satu rahasia dia bisa sukses besar di abad ke-20 adalah karena dia hanya bersaing dengan separuh populasi masyarakat. Apa maksudnya? Karena di abad lalu, perempuan-perempuan tidak bisa sepenuhnya menunjukkan potensinya, sehingga persaingan beliau hanya terbatas datang dari kaum laki-laki saja. Baik karena masyarakat Amerika masih menganggap perempuan kodratnya di dapur saja, atau karena kaum perempuannya sendiri menahan diri untuk berkembang.

Hilangnya separuh dari populasi masyarakat di dalam dunia bisnis, politik, sains, olahraga, kreativitas ini adalah kerugian untuk seluruh masyarakat, bangsa, dan juga umat manusia. Karena artinya kita kehilangan separuh kesempatan mendapatkan ide-ide besar dan karya-karya besar dari perempuan yang bisa memajukan, tidak hanya kualitas hidup perempuan, tetapi masyarakat keseluruhan, bahkan bangsa secara keseluruhan.

Dunia tanpa perempuan yang cerdas dan berkarya akan kehilangan separuh potensinya. Begitu juga dengan Indonesia. Jika saja lebih banyak perempuan Indonesia dengan bakat dan kecerdasan besar, sesungguhnya negeri kita akan menunjukkan potensinya sepenuhnya.

Oleh karena itu, penulis ingin mengingatkan, bahwa sifat perasa dalam diri perempuan bukanlah sebuah kekurangan ataupun penghalang. Perempuan bisa saja menjadi cerdas ketika bisa mengkolaborasikan sosok yang perasa dan berlogika dalam dirinya.

Catatan: Tulisan ini pertama kali dimuat di Buletin Al-Harf edisi kedua yang bertajuk Politikin Aja.

Related Posts

Demokrasi Merintih; Apa Kabar Rakyat Indonesia?

Penulis: Ryan Saputra Demokrasi dipercaya oleh 82 persen masyarakat Indonesia sebagai sistem pemerintahan terbaik. Beberapa alasan karena cakupannya tentang kebebasan berpendapat, penegakan hukum, kebebasan media massa, begitu dijunjung tinggi lagi…

Baca seterusnya

Pesta Demokrasi dan Manipulasi Media Sosial

Penulis: Andi Fakhrur Riza & Andi Mahfuds Muh. Marala Sudah tak asing lagi di telinga kita istilah pesta demokrasi. Kontestasi pemilu yang diselenggarakan tiap lima tahun sekali sejak 20 tahun…

Baca seterusnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *