Dalam sebuah forum Bincang Karya, saya dan teman-teman pegiat literasi pernah membaca sebuah cerpen karya Eka Kurniawan yang berjudul Kutukan Dapur. Eka dalam karya-karyanya, terkenal seringkali menanamkan kritik sosial budaya, dan salah satunya ada pada cerpen Kutukan Dapur ini. Namun, pemahaman terhadap kritik itu sendiri sepertinya tetap dikembalikan pada pemaknaan setiap pembacanya. Sebab Eka memiliki gaya penulisan yang kadang mengundang ambiguitas dan multi-tafsir.

Kutukan Dapur menceritakan dua tokoh perempuan yang berbeda latar waktu namun memiliki kesamaan nasib dalam latar dapur. Adapun kata “kutukan” yang kemudian desandingkan dengan “dapur” di judul menunjukkan makna keterkekangan yang harus dihadapi oleh kedua tokoh cerita ini.

Tokoh pertama, Diah Ayu, dikisahkan sebagai seorang perempuan yang hidup di era kolonial dan harus menjalani hidup sebagai tukang masak dari sebuah keluarga Belanda. Diah Ayu digambarkan sebagai seorang yang sangat berbakat dalam meracik bumbu makanan. Sehingga dengan keahliannya itu ia bisa mengotak-atik bumbu masakan menjadi apapun, termasuk racun yang bisa membunuh majikannya sendiri. Pada suatu kesempatan Diah Ayu memimpin sebuah pemberontakan yang terdiri dari para perempuan yang senasib dengannya. Demikianlah ia menjadi seorang tokoh perempuan yang ikut serta dalam perlawanan terhadap para penjajah dengan heroik dari dalam dapur.

Tokoh kedua, Maharani, seorang perempuan yang hidup dengan latar waktu modern yang harus menghadapi ketidakadilan sterotip gender. Maharani hidup sebagai seorang istri yang dituntut untuk patuh melayani suaminya di ranjang dan dapur. Kondisi itu membuat maharani merasa terkekang utamanya dalam urusan dapur yang tidak dikuasainya. Sehingga ia berpandangan kalau dapur bukan hanya tempat pengolahan domestik, tapi juga sebagai tempat penindasan terhadap dirinya.

Pada suatu kesempatan, kisah kedua tokoh di atas dipertemukan dalam sebuah museum. Maharani dibuat tertarik oleh kisah heroik dari Diah Ayu yang melawan penjajah dari dalam dapur dengan bersenjatakan bumbu dapur. Kisah itu akhirnya menjadi motivasi bagi Maharani untuk melakukan perlawanan yang sama terhadap penindasan yang dihadapinya.

Dapur dan Perempuan

Dari kisah Maharani, kita bisa melihat salah satu bentuk ketidakadilan gender dimana perempuan seringkali terjebak dalam peran domestik, seperti dalam hal mengurusi dapur, keluarga, dsb. Perkara dapur dan perempuan merupakan sebuah keterikatan yang memang sudah terbangun dalam masyarakat sejak lama. Dapur seringkali dianggap sudah menjadi ruang eksklusif bagi perempuan. Padahal kita tahu sendiri bahwa ada juga perempuan yang ingin mengembangkan diri mereka dalam fokus yang lain, seperti pendidikan dan karir.

Yang harus kita sadari, perlakuan demikian merupakan pembebanan yang membatasi ruang gerak, potensi, dan kebebasan mereka. Pengekangan ini hanya akan menciptakan beban psikologis dan juga mengabaikan kebutuhan dan keinginan perempuan sebagai individu. Efek lainnya bukan hanya berdampak pada perempuan secara individu, tetapi juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan masyarakat secara umum, dikarenakan banyak mimipi dan aspirasi yang harus terhalang hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial yang mengekang ini.

Jika kita mengintip realita sosial saat ini, problematika dapur dan perempuan masih sering terjadi di dalam masyarakat kita. Kita pasti tidak asing mendengar, “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Toh nanti bakal kembali ke dapur juga.” Sebuah kalimat yang mampu merepresentasikan masalah kutukan dapur ini.

Saat saya cek di laman google, sudah ada banyak tulisan atau opini-opini yang ditujukan untuk mematahkan atau mengkritik ungkapan tadi. Namun di antara opini-opini solutif yang berbicara tentang persoalan, ada hal yang rasanya perlu kita pahami karena memang hal ini kadang disalahpahami. Membebaskan perempuan dari kutukan dapur bukan bermakna membantu mereka untuk keluar dari dapur, melainkan membebaskan mereka dari belenggu ekspektasi sosial yang menuntut perempuan untuk terus mendekap di dapur. Jadi, poin inti yang harus dipatahkan dari permasalahan ini adalah bukan pada dapurnya, tapi pada stigma masyarakat yang melekatkan dapur dan perempuan.

Tidak Harus Keluar dari Dapur

Kritik terhadap hal ini mungkin bisa kita dapati pada cerpen Kutukan Dapur di atas jika kita fokus pada tokoh Diah Ayu. Cara ia mengalahkan penjajah sangat berbeda dengan pahlawan pada umumnya. Ia melawan penjajah hanya dengan bersenjatakan bumbu dapur dari dalam dapur yang senyap.

Poin yang bisa saya tarik dari perlawanan yang dilakukan Diah Ayu ini adalah menyuarakan ketidakadilan akan sterotip gender bukan berarti kita berkoar-koar agar para perempuan keluar dari dapur dan bertarung di luar berlomba-lomba merebut peran laki-laki. Akan tetapi menyuarakan kesetaraan gender yang sebenarnya adalah dengan mematahkan stigma yang melekat pada sikap, peran, fungsi, dan tanggung jawab yang melekat pada diri perempuan ataupun laki-laki akibat bemtukan sosial dan budaya.