6 September 2011
Arimah putriku,
Selamat ulang tahun untukmu. Ketika surat ini sampai di tanganmu, artinya kamu sudah menginjak usia delapan belas tahun. Kamu pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Maafkan ibu, karena hanya bisa menemani dewasamu melalui surat-surat yang ibu kirim.
Di usiamu yang sekarang jika diibaratkan sebagai seekor kupu-kupu, kamu baru saja keluar dari kepompong. Dengan sayap baru nan indah, sebuah kebebasan sedang menunggu di hadapanmu. Tapi, sayap itu tidak akan langsung membawamu terbang. Dia akan memberimu waktu sejenak untuk memikirkan kamu ingin menjadi kupu-kupu jenis apa. Saran ibu, jangan pernah menjadi kupu-kupu yang terbang di malam hari. Karena kupu-kupu yang terbang di malam hari rawan tersesat. Bahkan dalam cahaya lampu sekalipun. Yakinlah! Ibumu ini sangat tahu bagaimana rasanya tersesat. Karena itu kamu cukup tahu, tak perlu ikut merasakannya.
Putuskanlah mana yang baik menurutmu. Gunakanlah sayapmu yang indah itu sebaik-baiknya. Terbanglah kemanapun yang kamu inginkan. Tapi ingat, kupu-kupu selalu terbang dengan tujuan. Jikalau sesekali kamu tersesat dalam gelap malam, percayalah dengan cahaya bulan, seredup apapun itu dia akan menuntunmu. Dan berhati-hatilah dengan cahaya lampu, seterang apapun itu. Karena banyak serangga yang terjebak pada terang cahayanya.
Ibumu, Cynthia
Surat-surat ibu masih terus berdatangan di setiap hari ulang tahunku. Ia selalu memberikan nasehat-nasehat dengan kiasan kupu-kupunya yang khas. Hal itu membuatku merasa masih mendapat perhatian seorang ibu walau tak lagi bersamanya.
Aku selalu ingin membalas surat yang ia kirim. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan, walau hanya basa basi semata. Toh, dia pasti akan memahami kalau itu semua adalah kerinduan. Tapi karena tak tahu ingin kukirim ke mana, maka semua pesanku kubisikkan saja melalui rembulan dan angin malam yang merupakan sahabat para kupu-kupu malam. Mereka pasti tahu ke mana pesan-pesan ini harusnya tertuju. Kepadanya, sang kupu-kupu malam.
***
Aku dan ibu hanya tinggal berdua di sebuah kos-kosan kecil yang berada di pinggiran kota. Di umur tujuh tahun aku sudah terbiasa, atau mungkin lebih tepatnya dipaksa keadaan untuk hidup mandiri. Karena ibu selalu sibuk bekerja di luar rumah pada malam hari dan baru pulang saat aku sudah berangkat ke sekolah di pagi hari. Waktu yang dia luangkan untukku hanya antara siang sampai magrib. Itupun selalu dia habiskan untuk tidur karena kelelahan. Dan akan hilang lagi entah ke mana saat malam tiba.
Aku tidak tahu pasti apa pekerjaan ibu. Namun, aku sering mendengar para tetangga menyandingkan nama ibuku dengan kalimat ‘si kupu-kupu malam’. Sungguh julukan yang sangat indah, pikirku. Tapi ketika aku tanyakan ke ibu tentang apa yang dimaksud kupu-kupu malam, tiba-tiba saja dia menggenggam erat bahuku dengan tatapan yang merah menyala kemudian mengatakan “kamu tidak perlu tahu itu. Yang penting sekarang kita bisa makan dan kamu bisa sekolah.” Aku hanya mengangguk ketakutan melihat ekspresi ibu saat itu. Aku tidak tahu bagian mana dari pertanyaanku yang membuatnya marah.
Setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi bertanya padanya tentang pekerjaan, kupu-kupu malam, atau tentang apa pun yang mungkin bisa membuatnya marah. Namun, tentu saja yang namanya penasaran tetap akan tertampung sebagai pertanyaan selama belum terjawab. Aku coba bertanya pada Ibu Guru Melati di sekolah. Karena dia tahu banyak hal dan selalu menjawab pertanyaanku apa pun itu.
“Ibu guru tau nggak apa itu kupu-kupu malam?” Tanyaku penasaran.
Dia tampak diam dan berfikir sejenak sebelum menjawab. “Ibu tidak terlalu mengerti kupu-kupu yang kamu maksud. Tapi, ibu pernah dengar bahwa kupu-kupu yang datang di malam hari merupakan pertanda keberuntungan dan kesuksesan akan menghampiri pemilik rumah yang didatangi,” jawabnya.
Aku merasa cukup puas mendengar jawabannya. Mungkin itu yang dimaksud para tetangga sebagai kupu-kupu malam. Memang sesuai dengan pekerjaan ibu yang sering keluar pada saat malam. Aku mencoba membayangkan ibu berpenampilan seperti peri dengan baju ketatnya yang menampakkan setiap lekukan tubuh, juga memiliki sayap kupu-kupu dan tongkat sihir kecil yang dia gunakan untuk membagikan keberkahan di setiap rumah. Sungguh pekerjaan yang mulia.
Namun, sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan pekerjaannya, apa pun itu. Yang aku permasalahkan adalah, apakah dia harus sesibuk itu membagikan keberkahan dan kebahagiaan pada orang lain tapi lupa untuk memberikan perhatian dan bersikap dingin pada anaknya sendiri. Aku hanya ingin dia tahu betapa aku membutuhkan kasih sayangnya. Aku juga iri ketika melihat teman-temanku yang selalu diantar jemput oleh orang tua mereka saat ke sekolah, dibantu mengerjakan PR, dan dibacakan dongeng pengantar tidur setiap malam.
Seandainya aku punya seorang ayah, ibu pasti selalu punya waktu untukku. Tapi dia tidak pernah membawa seorang pun yang bisa kupanggil sebagai ayah. Aku sudah pernah mencoba bertanya kepada ibu siapa ayahku. Dia tidak menjawab, dan lagi-lagi menunjukkan ekspresi yang membuatku bungkam ketakutan.
Aku tidak mengerti kenapa ibu tidak pernah menjawab pertanyaanku. Aku begitu penasaran. Sampai saat aku sudah tidak tahan lagi, kucoba untuk menahan ibu agar tidak keluar bekerja malam itu dan kuledakkan semua pertanyaan dan kerinduanku di hadapannya. Aku harap dia paham kalau aku sangat merindukan semua hal yang tidak pernah ia berikan. Aku rindu banyak hal tentangnya, nyanyian pengantar tidur, hangat tangannya ketika mengusap dahiku sampai aku tertidur, bahkan aku juga merindukan ayah yang tidak pernah aku kenal.
Aku benar-benar meledak malam itu. Kuungkapkan semua perasaanku yang sudah lama kutahan. Sampai-sampai mataku juga tidak mau kalah dengan mulutku, kutumpahkan semua air mata yang sudah lama aku tahan. Ibu tidak memotong sedikit pun perkataanku. Dia menunggu sampai aku selesai bicara, baru kemudian memelukku erat. Dia berusaha menyembunyikan air matanya di balik pelukan itu. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya. Dia membiarkanku menafsirkan sendiri makna di balik tangisannya itu, dan hanya menjawab semua kebingunganku dengan kalimat singkat yang tidak aku mengerti, “kamu akan paham suatu hari nanti. Umur kupu-kupu terlalu singkat untuk menjelaskan alasannya menjadi kupu-kupu”.
Aku tak ambil pusing untuk memahami jawabanya itu. Mungkin hanya butuh waktu, seperti yang dia katakan. Yang pasti, malam itu adalah waktu bagi si kupu-kupu malam untuk memberkahi dirinya sendiri dan anaknya.
Setelah malam yang penuh air mata itu, ibu jadi lebih sering di rumah menemaniku dan perlahan mulai terbuka mengajakku bicara. Nampaknya dia benar-benar sudah menyadari keberadaan putrinya ini. Ibu juga mulai sering membawa seorang laki-laki ke rumah. Mereka sering bicara berdua di dalam kamar dan ibu selalu melarangku untuk ikut masuk. Aku penasaran dengan orang ini, mungkin saja dia adalah ayahku. Kalau benar dimikian, berarti tinggal menunggu waktu bagiku untuk mendapatkan keluarga yang sudah lama kudambakan.
Tapi pada akhirnya, kenyataan tidak menghendaki harapanku. Semakin hari tubuh ibu tampak semakin kurus dan sakit-sakitan. Setiap malam dia habiskan untuk bertarung mati-matian dengan penyakit batuk yang menyerang. Dia juga selalu menolak untuk berobat. Sampai saat ulang tahunku yang kesepuluh tiba, hanya kematiannya yang dia berikan sebagai kado untukku. Waktu yang singkat untuk sebuah angan-angan kebahagiaan. Aku baru ingat kata Ibu Guru Melati bahwa umur seekor kupu-kupu sangatlah singkat.
Setelah kamatian ibu aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Tak tahu arah mau ke mana, bak kupu-kupu yang terjebak dalam jendela. Hanya perlu menunggu waktu saja bagiku untuk mati kelaparan. Awalnya begitu pikirku. Tapi sepertinya ibu tidak pernah membiarkan itu terjadi. Laki-laki asing yang pernah ke rumah dan aku kira ayahku datang membawa surat. Dia tetap tidak memperkenalkan dirinya sebagai ayah, melainkan hanya seorang pengantar surat biasa. Dia mengantarkan surat-surat dari ibu di setiap ulang tahunku. Surat yang membebaskan sang anak kupu-kupu untuk keluar dari jendela kesedihan.
***
9 Februari 2020
Ibuku Cynthia,
Hari ini, tepat hari ulang tahunku yang kedelapan belas suratmu datang lagi, padahal kau sudah tiada. Di dalamnya kamu menuliskan pesan-pesan tuntunan yang tidak membiarkan sedikitpun putrimu ini tersesat. Tapi, entah kenapa tulisan tanganmu di dalam surat-surat itu jutsru membuatku semakin tersesat dalam kerinduan.
Ingatkah kau, malam saat kita saling berpelukan dan bertukar pikiran melalui air mata? Aku sangat ingin malam itu kembali walau mustahil. Aku juga ingat kalimat singkat membingungkan yang kamu ucapkan saat itu. Seperti katamu, hanya butuh waktu untuk menjawab semua pertanyaanku. Dan kurasa semuanya sudah terjawab saat ini.
Surat ini adalah surat yang aku tulis secara imajinatif dalam kepalaku. Kukirimkan kepadamu melalui rembulan dan angin malam yang merupakan sahabatmu. Aku yakin kamu pasti akan menerimanya. Sebab, kamu adalah seekor kupu-kupu. Sudah biasa bagimu mengantarkan pesan dari satu bunga ke bunga lainnya. Salam rindu, ibu.
Dari putrimu, Arimah

