Cerita Paling Epik

Cerita bermula ketika segerombolan bocah berkumpul di kelas saat waktu istirahat tiba. Mereka merupakan siswa di salah satu sekolah dasar yang terletak di sekitar alun-alun kota Bone, sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan. Mereka sangat antusias, bahkan saling berlomba untuk menceritakan apapun yang mereka ketahui tentang legenda Arung Palakka. Sosok raja yang sangat diagungkan dan dianggap sebagai tokoh Pembebas oleh masyarakat Bone.

Dahulu, saat kerajaan Gowa-Tallo mulai memasuki masa kejayaannya Pada abad 16-17, mereka mulai menginvasi wilayah-wilayah sekitarnya, termasuk kerajaan Bone. Kerajaan yang nantinya melahirkan sosok pemimpin besar yang akan membebaskan kerajaan Bone dari genggaman kerajaan Gowa dan melepaskan rakyatnya dari belenggu perbudakan.

Setelah bertahun-tahun berada di bawah rantai perbudakan, muncullah secercah harapan bagi rakyat Bone. Tatkala seorang pangeran perkasa dari kalangan bangsawan Bone dan sebagian besar budak berhasil melarikan diri dan kembali ke tanah kelahiran mereka. Meskipun beberapa waktu setelahnya pasukan Gowa datang dan membantai sebagian besar dari mereka. Namun dalam peristiwa tersebut ia sempat menyelamatkan diri dari pembantaian.

Ia adalah seorang pangeran muda yang tumbuh sebagai sandera di balik tembok kokoh kerajaan Gowa. Di balik tembok itu ia menyaksikan berbagai macam siksaan dan penderitaan yang dialami rakyatnya. Di mana hal tersebut membakar semangatnya untuk terus berjuang demi kebebasan dan kemerdekaan rakyat Bone. Hingga pada saat yang ditunggu-tunggu tiba, bersama para sekutunya ia berhasil menaklukkan kerajaan Gowa dan menghadiahkan kemerdekaan bagi rakyatnya. Ia pun dikenang sebagai Arung Palakka Sang Pembebas.

Namun di balik kisah epik tersebut, setelah kematiannya, legenda dan cerita-cerita fiktif mulai bertebaran begitu pesat, merambat dari lisan ke lisan seakan setiap cerita mulai membentuk kehidupannya sendiri. Banyak yang mengaitkan kisahnya dengan hal-hal mistis dan sesuatu yang bersifat takhayul lainnya.

“Kemarin salah seorang petugas kebersihan di taman kota meninggal. Dengar-dengar dia dibunuh oleh arwah Arung Palakka dan pasukannya,” ujar salah satu siswa jangkung dengan wajah bersih bernama Putra secara tiba-tiba, sehingga memantik percakapan di pagi yang cerah itu.

“Mengapa mereka membunuhnya?” tanya Andi Baso, siswa gemuk berhidung pesek dengan mulut yang masih penuh siomay. Ia berada tepat di sampingnya.

Putra pun menatap mata kawannya itu dengan raut wajah serius sembari melanjutkan, “Beberapa hari yang lalu, dia dengan lancang mengeluh soal pekerjaan dan membandingkannya dengan patung Arung Palakka. Sebuah Patung besar yang berdiri tegak tepat di tengah alun-alun kota Bone.”

“Memangnya apa yang dia katakan, Put?” tanya Andri penasaran. Seorang siswa bermata sipit dengan kulit cerah merona.

“Kata kawanku, saat membersihkan sampah di taman kota, petugas itu menatap patung tersebut sambil nyeletuk, ‘Enak saja patung itu, kerjanya cuma berdiri di tengah taman ini, sedangkan aku harus membersihkan taman setiap hari.’ Nah, karena perkataannya itulah arwah Arung Palakka dan pasukannya mendatangi rumah petugas itu, kemudian mencekiknya sampai mati,” jelas Putra kepada Andri dengan sorot mata yang penuh semangat, seakan sedang menceritakan hal paling epik dalam hidupnya.

“Tapi itu belum seberapa, kawan, bahkan kata ibuku, saat malam tiba dan semua orang terlelap dalam tidurnya, kalian tahu apa yang dilakukan patung besar itu?” tanya Andri kepada kawan-kawannya yang serius menyimak pembicaraan. Mereka pun menggeleng sembari memasang raut wajah penasaran.

“Memangnya apa yang dilakukan patung itu, Ndri?” tanya Wawank, siswa laki-laki pendek dengan anting mainan mirip emas yang ia jepitkan di telinga kirinya. Ia dari tadi hanya diam menyimak percakapan.

Menyambar pertanyaan tersebut, Andri pun dengan antusias menjawab, “Konon katanya, patung itu duduk setelah merasa lelah berdiri seharian. “Sebagai bocah ingusan yang belum bisa berfikir logis, mereka pun percaya dan tercengang dengan apa yang mereka dengar barusan, tanpa adanya sedikit pun keraguan di benak mereka.

Namun cerita belum selesai sampai di situ. “ Hahaha, apa yang kalian ceritakan barusan tidak lebih epik dari apa yang akan kalian dengar dariku,” ucap Wawank yang disertai dengan tertawa berlagak sombong seakan tak mau kalah. Seketika semua mata tertuju padanya.

“Memangnya cerita apa yang akan keluar dari mulutmu, Kawan?” tanya Putra sambil tersenyum seakan menahan tawa.

“Kalian ingat meteor yang jatuh di Teluk Bone beberapa pekan yang lalu? Meteor yang mengguncang seantero kota dengan bunyi gemuruhnya yang menggelegar?” tanya Wawank sambil menatap wajah kawan-kawannya satu persatu, seakan menunggu jawaban dari mulut mereka.

“Ya, aku ingat,” kata Andi Baso yang dari tadi hanya diam mendengarkan namun tampak mulai tak sabar mendengar kelanjutan cerita kawannya itu. “Aku bahkan menyangka hari itu akan terjadi gempa, sehingga membuatku panik dan berlari mencari perlindungan,” lanjutnya.

Respon itu pun disusul oleh Putra dengan berujar, “Malah awalnya aku menyangka suara gemuruh itu disebabkan oleh kembang api, mengingat acara pernikahan salah satu anak pejabat kota akan dilangsungkan hari itu. Tapi mana mungkin kembang api dinyalakan di pagi hari?” lanjutnya dengan raut wajah kebingungan.

Wawank pun tersenyum tipis, lalu kemudian dengan penuh semangat menjelaskan, “Sebenarnya meteor yang jatuh itu dikirim oleh Arung Palakka. Dia marah karena pejabat kota itu menggunakan benda pusakanya, untuk memeriahkan acara pernikahan anaknya tanpa izin. Sehingga dia mengirimkan meteor itu sebagai peringatan.”

Mereka lagi-lagi tercengang dan merinding tanpa mempertimbangkan kelogisan cerita tersebut dengan akal. Hingga akhirnya bel yang ada di depan kelas pun berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai sekaligus mengakhiri cerita mereka pada hari itu.

Namun tanpa sadar, di sudut ruang kelas mereka, sebuah tempat yang tidak diterangi sinar matahari, arwah Arung Palakka dengan rambut panjang dan tombak legendaris di genggamannya, berdiri mengawasi dan menatap ke arah mereka pagi hari itu.

Zulham Sulfadly

Mahasiswa akidah filsafat, sedang menekuni dunia fotografi dan explorasi tempat-tempat bersejarah.

Related Posts

Tuntunan Ibu Kupu-Kupu

6 September 2011 Arimah putriku, Selamat ulang tahun untukmu. Ketika surat ini sampai di tanganmu, artinya kamu sudah menginjak usia delapan belas tahun. Kamu pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang…

Baca seterusnya

Gadis dalam Ingatan

Penulis: Wais Al-Karni AK Jika kau luang malam ini tengoklah aku sejenak. Aku sedang memeliharamu di antara kelap kelip bintang yang kulukis dalam keramaian kepalaku, ramai akan namamu.   Aku…

Baca seterusnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *