Kalau ditanya jujur, saya tidak pernah tertarik apalagi terpikirkan untuk mengulik sisi keislaman Prabowo. Bukan karena benci ataupun alasan lain, tapi memang citra yang dibangun sejak dulu adalah ia seorang pejuang, pemberani, dan disiplin. Tidak ada julukan-julukan secara langsung yang bernuansa islami.
Sehingga, hampir tak tersisihkan ruang untuk mencari aspek religiusitas sang presiden tersebut. Sekalipun pernah ada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang muncul seperti, “salat Jum’at di mana?” atau “beliau puasa, nggak?” Itu masih mendingan, ketimbang menyimpulkan keislaman beliau lewat kopiah yang selalu ia kenakan atau pakaian yang selalu menutup aurat.
Memang suatu hal menarik ketika Prabowo dan Islam disandingkan dalam satu pembicaraan, demikian buku Islam ala Prabowo ini. Makanya, saya begitu salut dengan inisiatif penyusun dan penulis dalam melahirkan karya tersebut. Selain dari judul yang telah menjual dengan istilah ‘Islam ala ala-an’, buku ini cukup berani mengambil jalur lain untuk menegaskan bahwa Presiden Indonesia saat ini pun senantiasa mengamalkan ajaran Islam. Bahkan lebih Islam daripada yang kita kira.
Gagasan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam khazanah literatur politik Indonesia. Pelabelan Islam kepada seorang pemimpin telah beberapa kali muncul melalui karya-karya yang bisa diklasifikasikan ke dua hal: pemikiran dan tindakan.
Karya pemikiran, seperti Soekarno dan Islam karya M. Ridwan Lubis dan Islamku Islam Anda Islam Kita karya Gusdur, berbeda dengan Jokowi Beragama dalam Tindakan karya Kastoyo Ramelan dan Islam ala Prabowo yang ingin menampakkan wujud keislaman lewat tindakan. Sehingga, hadirnya buku Islam ala Prabowo ini memperpanjang tradisi tersebut dengan menghadirkan pembacaan keislaman terhadap seorang presiden melalui pengalaman hidup, karakter personal, dan kebijakan politiknya.
Buku Islam ala Prabowo merupakan bunga rampai pengalaman dari 22 penulis yang memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari Jenderal, Pegiat Hukum, Kyai, Politikus, Jurnalis, hingga Duta Besar Palestina untuk Indonesia pun turut menyumbangkan gagasan. Semuanya membicarakan kesan dan pemikiran mereka terhadap cara Prabowo mengamalkan ajaran Islam dalam setiap laku politiknya. Buku setebal 346 halaman ini disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas yang dibagi ke dalam tiga bahasan pokok, yaitu Islam: Perdamaian & Keadilan, Spiritualitas Prabowo Subianto, dan Perjuangan untuk Kesejahteraan Rakyat.
Islamnya Prabowo
Lagi-lagi, saya cukup terkesima dengan para penulis yang merumuskan beberapa “label” menarik terkait cara Pak Presiden mengamalkan ajaran Islam, seperti Islam Substantif, Islam Kaffah, Islam Kerakyatan, Islam Rasional, Islam Nusantara, bahkan Mazhab Prabowo. Di antara banyaknya istilah, yang cukup ditonjolkan adalah Islam Kerakyatan atau Islam Humanisnya sang presiden. Kenapa demikian, nampak setiap bab buku ini yang menjadi pondasi nilai Islam untuk merepresentasikan laku keislaman sang presiden adalah keberpihakan terhadap rakyat tanpa pandang bulu.
Misalkan, Muhadjir Effendy menyebut islamnya Prabowo adalah ‘Islam Substantif’ yang kemudian dibahasakan sebagai Islam Kerakyatan atau Sosialisme Islam yang mengutamakan amalan kebaikan daripada ‘omon-omon’ saja untuk berpihak kepada yang lemah. Penasihat Khusus Presiden urusan Haji dan Umrah itu pun menegaskan dengan kesamaan pemikiran dengan KH. Ahmad Dahlan yang bertitik tolak dari pesan surah Al-Ma’un. Doktrin Al-Ma’un itu pun kemudian diejawantahkan lewat program tercinta, Makan Bergizi Gratis untuk menopang kesejahteraan anak-anak penurus bangsa.
Lebih lanjut, Muhadjir menyatakan bahwa salah satu fondasi Islam Kerakyatan Prabowo adalah membangun ekosistem haji yang baik. Mulai dari pembentukan Kementerian Haji dan Umrah, pengelolaan Dam Haji untuk dibagikan ke masyarakat Indonesia, hingga pembentukan ‘Kampung Haji’ sebagai wujud pelayanan terbaik dan kemandirian ekonomi.
Hal tersebut diapresiasi sebagai bentuk perhatian sang presiden terhadap masalah penting umat Islam, khususnya masyarakat Indonesia yang masih menghadapi permasalahan yang berulang, mulai dari masalah kuota, kesehatan, transportasi, dan lainnya.
Dengan potret kepemimpinan tersebut, Kyai Ali Masykur Musa akhirnya membeberkan bahwa di balik sosok presiden yang tegas nan perkasa, sesungguhnya Prabowo itu memiliki hati yang lembut. Salah satu contohnya adalah ia sering mengirim teman-temannya dari seangkatannya di AKABRI atau memberikan anak-anak mereka berupa beasiswa melalui Yayasan Supersemar.
Prof. Ali pun menegaskan bahwa kelembutan hati tersebutlah merupakan esensi dari tasawuf. Singkatnya, keseharian sang presiden yang menempatkan sisi kemanusiaan yang tinggi adalah implementasi ajaran tasawuf itu sendiri, bahkan demikianlah bentuk kesempurnaan agama.
Maka, tidak berlebihan jika Agus Maftuh Abegebriel merumuskan ‘Mazhab Prabowo’ dalam tulisannya. Bahwa, Prabowo itu memiliki mazhab yang ia sebut ‘aulawiyyatu NKRI’ atau menjadikan negara dan bangsa sebagai prioritas yang tidak bisa dikalahkan oleh kepentingan lain.
Niat dan laku sang presiden bisa dibuktikan secara langsung bagaimana ia mengupayakan agar Indonesia menjadi negara yang sejahtera, makmur, dan mandiri lewat kebijakan-kebijakan politiknya. Agus meyakini bahwa jika mazhab tersebut diterapkan dengan baik dan bersih, akan membawa keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali.
Ia pun mengutip dari perkataan Prabowo bahwa menjalankan pemerintahan harus dengan cara yang bersih dan adil. Mantan Dubes LBBP RI untuk Kerajaan Arab Saudi tersebut sering mendengarkan sang presiden mengutip doktrin dari Kekaisaran Ottoman bahwa, “Tidak ada negara tanpa tentara yang kuat, tidak ada tentara yang kuat tanpa uang, tidak ada uang tanpa kemanusiaan, dan tidak ada kemakmuran tanpa rakyat yang bahagia dan sejahtera. Tidak ada rakyat yang bahagia dan sejahtera tanpa pemerintah yang bersih dan adil.”
Akhirnya, Kyai Asep Saifuddin Calim punya pemikiran dan harapan bahwa Prabowo sebenarnya punya potensi berprestasi seperti Umar bin Abdul Aziz yang berjuang menegakkan keadilan, memberantas korupsi, hingga memakmurkan rakyatnya. Karena baginya, Prabowo adalah tokoh rasional yang langkah-langkahnya selaras dengan Islam. Lewat program-program seperti MBG dan hilirisasi, Kyai Asep berharap agar program tersebut disukseskan karena itulah yang akan menjadi penopang ekonomi untuk mewujudkan kemakmuran rakyat Indonesia.
Di akhir tulisannya pun ia mendukung agar Prabowo memimpin dua periode untuk pemerintahan yang tegas, anti korupsi, efisien, dan berakhlak sesuai dengan nilai-nilai agama bak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz kala dulu.
Sebuah Catatan
Salah satu yang menjadi catatan adalah konsep Islam yang digunakan dalam buku ini belum memperoleh perumusan konseptual yang memadai sebagai kerangka analisis. Nilai-nilai seperti amanah, keadilan, keberanian, nasionalisme, dan keberpihakan kepada rakyat diposisikan sebagai indikator keberislaman seorang pemimpin tanpa didahului penjelasan mengenai landasan normatif maupun teoritis yang menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan tradisi etika politik Islam.
Padahal sebagian besar nilai tersebut juga merupakan prinsip etika universal yang berkembang dalam berbagai tradisi filsafat politik dan agama. Oleh karena itu, hubungan antara tindakan politik dan ajaran Islam memerlukan argumentasi konseptual yang menunjukkan mengapa suatu tindakan dapat dipahami sebagai aktualisasi nilai Islam, bukan sekadar memiliki kesesuaian dengan nilai yang juga diajarkan Islam.
Kalau didekati dengan pembacaan hermeneutik, tidak lagi memulai pembacaan dengan bertanya apakah isi teks benar atau salah. Perhatian utamanya diarahkan pada proses terbentuknya makna. Islam ala Prabowo hadir setelah Prabowo menjabat sebagai Presiden Indonesia, menunjukkan bahwa teks ini lahir dalam situasi sosial-politik tertentu.
Sebelum-sebelumnya, sang presiden lebih akrab dengan sosok pejuang dan patriotik. Momentum tersebut memberikan konteks yang penting bagi pembentukan narasi bahwa Islam tampil sebagai horizon penafsiran terhadap kepemimpinan, sementara pengalaman politik Prabowo disusun sebagai rangkaian peristiwa yang saling menguatkan horizon tersebut.
Pada tingkat teks, proses konstruksi makna berlangsung melalui beberapa fakta. Peristiwa-peristiwa tertentu memperoleh penekanan yang lebih besar karena memiliki kedekatan dengan tema religiusitas. Misalkan, kisah kedekatan dengan ulama, kepedulian kepada masyarakat, dan berbagai kebijakan yang dipandang berpihak kepada kepentingan publik menjadi elemen-elemen dominan dalam narasi.
Seleksi tersebut merupakan praktik yang lazim dalam setiap penulisan biografi. Akan tetapi, dominasi satu jenis fakta menghasilkan representasi yang sangat terarah sehingga kompleksitas seorang tokoh politik menjadi kurang terlihat. Misalkan, potret kedekataan Prabowo dengan ulama, hubungan dengan negara Islam, seringkali didapati berulang dalam buku ini. Begitupun keberpihakan kepada rakyat cukup mendominasi, yang memang sudah semestinya dilakukan oleh seorang pemimpin.
Tapi, mungkin seperti itulah kemudian bahasa dalam buku ini untuk mengorganisir tujuan penulis kepada pengalaman pembaca melalui pilihan istilah, struktur narasi, dan hubungan antarfakta. Kepemimpinan Prabowo secara bertahap dipahami sebagai pengejawantahan nilai-nilai Islam. Relasi tersebut dibangun melalui pengulangan kisah, penegasan karakter dengan teks-teks agama, dan penyandingan berbagai tindakan politik dengan konsep-konsep moral keagamaan. Islam dalam buku ini kemudian hadir sebagai kerangka interpretasi yang memberi legitimasi terhadap identitas kepemimpinan sang presiden.
Pembacaan semacam ini tidak dimaksudkan untuk menolak seluruh isi buku. Karya ini justru penting karena memperlihatkan bagaimana agama bekerja dalam produksi makna politik di Indonesia kontemporer. Nilainya terletak pada kemampuannya mendokumentasikan satu cara pandang mengenai kepemimpinan Prabowo.
Pada saat yang sama, buku ini juga memperlihatkan bagaimana bahasa, simbol keagamaan, dan narasi biografis dapat membentuk legitimasi politik dalam ruang publik. Pada akhirnya saya setuju dengan argumen yang disampaikan oleh Kiai Said Aqil Siradj, bahwa Prabowo tidak memerlukan klaim sebagai pemimpin Islamis, cukup menjadi pemimpin yang nasionalis karena sudah mencerminkan nilai-nilai Islam. Biar tidak terlalu ‘diini-inikan’ juga, toh. Paham.





