Habis Menghadap Kakbah, Terbitlah Menghadap Kamera: Pengalaman Jadi Tukang Dokumentasi di Tanah Suci

Goenawan Mohamad pernah bertutur dalam sebuah esainya, bahwa berziarah ke kota suci saat ini rasa-rasanya piknik ke kemewahan. Dan itulah kemudian yang pernah saya rasakan dan amini, bahkan hampir setiap orang pun saya yakin akan menjawab iya.

Bagaimana tidak, setelah ditampung dalam kungkungan ukhrawi di dalam masjid, ketika keluar sekonyong-konyong akan disambut dengan kemewahan duniawi begitu saja. Mulai dari godaan jajanan khas Indonesia di sekitaran Hotel Safwah, obralan gamis dan parfum di sepanjang jalan menuju hotel, hingga cafe-cafean viral yang cukup menggoda untuk melepas penat. Saya rasa, di satu sisi, ini cukup mengalihkan kekhusyukan ibadah yang baru saja dilakukan.

Memang hidup di zaman sekarang ini, keintiman ibadah semakin diuji oleh porak-poranda modernisasi. Saat ombak modernitas mulai menghantam peradaban manusia, termasuk kehadiran mesin canggih bernama handphone, banyak sekali mempengaruhi lika-liku kehidupan ibadah kita hari ini.

Sebagai hamba biasa yang pernah mengais hidup beberapa bulan di tanah suci, saya menyaksikan begitu banyak persemaian digitalisasi ke ruang-ruang privat ibadah seorang muslim yang tengah melaksanakannya, sebut saja dokumentasi. Tak sedikit dari jemaah, khususnya Indonesia yang turut memotret segala macam laku ibadah mereka, begitu pun tak sedikit yang memoles drama-dramaan tertentu untuk kepentingan tertentu.

Ada satu cerita, suatu hari saya pernah menjadi tukang dokumentasi travel. Dan memang, setiap travel butuh akan hal itu. Sampai-sampai, mereka begitu ketat menyeleksi kami. Bahkan ada beberapa standarisasi, seperti minimal punya Iphone 15, berpengalaman, dan pastinya siap jadi ‘ustaz dadakan’ yang siap ditanya tentang apapun perihal umrah dan selingkar wilayahnya. Kadang dapat pertanyaan warisan, hukum wudu pakai botol semprotan, bahkan masalah rumah tangga.

Jadi, memang dokumentasi itu sudah jadi barang primer bagi travel dan pelanggan dalam konteks perjalanan ibadah di tanah suci. Bahkan, menjadi nilai plus bagi instansi jikalau memiliki dokumentasi yang memuaskan. Bagaimana tidak, momen ini pasti akan menjadi pengalaman berkesan yang sayang sekali jika tidak diabadikan lewat sebuah foto ataupun video. Tentu kesayangan ini sebenarnya sudah jadi konsekuensi bagi manusia digital hari ini yang gemar mengabadikan kenangan.

Sehingga, hal tersebut bisa dikata menjadi sampel keterpengaruhan akan modernitas dalam ibadah ritual kita. Sehingga tidak salah jika tren ‘digitalisasi ibadah’ hari ini memang betul adanya dan nantinya akan juga turut bersinggungan dengan ruang khusyuk ibadah itu sendiri.

Pernah suatu momen, ada jemaah, seorang ibu yang sudah cukup berumur. Ia berangkat umrah atas jerih payahnya jadi tukang parkir. Saat selepas tawaf, salat sunah, dan berdoa, pemimpin rombongan pun menginstruksikan ke semua jemaah agar berkumpul untuk mengambil dokumentasi. Tapi, ibu tersebut masih khusyuk sambil terseduh-seduh dalam doanya. Sepertinya, banyak sekali doa yang ingin ia rapalkan, tapi di antara jemaah lain, sisa ibu itu yang belum masuk barisan.

Akhirnya, biar lebih efektif dan efisien (sebelum diusir sama petugas), saya mendekati ibu tersebut. Dengan suara yang lirih dan berat hati, saya mengajak ibu tersebut untuk mengambil posisi. Ibu itu pun dengan sigap menyapu segala air matanya yang telah, sedang, bahkan akan jatuh ke pipinya. Terjadilah sesi foto dengan pose tersenyum yang sedikit dipaksa.

Saya pun membatin, “Bagaimana ya, kalau ibu tadi masih curhat, meminta segala kebutuhan yang selama ini yang ia inginkan. Atau paling tidak dia sedang berdoa begini: ya Allah saya mau…” lalu tiba-tiba saya memotong: “foto bu.” Lalu ibu itu pun menyambung dalam doanya: “…mau foto oh iya foto ayo, Mas.” Kan, jadinya agak aneh konteks doanya. Saya pasti segan sama ibunya, sekaligus sama Tuhan yang mengganggu hambanya sedang berdoa.

Sesi berfoto pun selesai. Jamaah dipersilakan untuk mengisi amunisi air Zamzam sebelum melanjutkan rukun selanjutnya, yaitu sa’i. Sebagai kang dokumentasi yang berusaha profesional dan mengejar bintang lima, saya pun tak luput dari setiap momen penting yang dilalui oleh jemaah. Mulai dari memotret mereka yang terseduh-seduh ketika tawaf, menangis sehancur-hancurnya dalam salatnya, atau tersenyum bahagia saat prosesi ibadah tertunaikan. Sampai pada akhirnya, semua footage saya kumpulkan, jadi satu video, lalu kirimkan ke pemimpin rombongan untuk dinikmati dan pastinya diposting di sosmed masing-masing.

Demikianlah mungkin yang menjadi tantangan beribadah hari ini. Hampir seluruh amal yang dikerjakan, termasuk perihal ibadah akan berujung pada gelanggang sosial media yang tak lain daripada anak dari modernitas. Hampir setiap ‘apa yang dianggap religius’ dengan mudah diselancarkan oleh jari telunjuk ke dalam bingkai story sosmed. Memang tak sedikit dari jemaah yang ingin membagikan kebahagiaan mereka ke teman mayanya, tapi tak sedikit pula yang hanya ingin ‘memperlihatkan’ semata.

Sehingga, ibadah-ibadah kita hari ini di tengah kehidupan medsosiyyah, sudah terajut mesra dengan ikatan hubungan modernitas. Di satu sisi, bisa jadi memberikan energi positif akan konten ketaatan, sikap, dan prinsip beragama kita yang akan memotivasi teman maya yang lain. Namun, satu sisi yang paling penting juga adalah bagaimana menjalankan ibadah tetap dalam kondisi empat mata dengan Tuhan, demi mendapatkan puncak kelezatan dalam beribadah. Jangan sampai, kita lebih senang dianggap religius oleh pemirsa story dibanding Tuhan Yang Maha Kuasa tanpa pandang story.

Ryan Saputra

Sedang menekuni kajian tafsir Al-Qur'an. Cuman kadang nyasar ke bahasan bola, budaya, bahkan presiden. Penulis bisa disapa lewat Instagram @ryansaputraaa_. Salam kenal ceng!

Related Posts

Tiba-tiba Kepikiran Masalah Hidup Saat Piala Dunia

Salah satu kenikmatan yang sampai saat ini saya tidak ingin Allah cabut dari kehidupan saya adalah nonton bola. Kalau ditanya, apakah saya pengamat bola atau penikmat bola, maka jelas saya…

Baca seterusnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *