Pernah dengar kalimat “Kalau ingin maju, kita harus meniru Barat” atau “Kalau ingin terlihat modern, kita harus meniru cara hidup dan budaya Barat” atau berbagai ungkapan serupa, seolah menggambarkan bahwa jika Anda mau maju dan menjadi manusia modern, Anda harus bercermin kepada orang Barat. Ungkapan gagasan tersebut lahir dan telah bertahan sejak era kolonial pada abad ke-19, di tengah puncak dominasi dan pengaruh Eropa dalam berbagai bidang, dan tetap bertahan sampai saat ini.
Gagasan yang seolah menjadi standar kemajuan tersebut tidak hanya berhasil mengubah peta politik dan ekonomi dunia, namun juga berhasil membentuk cara pandang dan pola pikir masyarakat, termasuk dunia Islam. Kelahiran para pemikir muslim sekuler pun tidak pernah lepas dari dominasi intelektual Barat tersebut. Di tengah krisis yang dialami kesultanan Utsmani, pandangan bahwa westernisasi adalah jalan untuk menyelamatkan negara, berkembang dan menyebar. Meskipun tidak semua mengamini pandangan tersebut. Lantas apakah memandang Barat sebagai tolak ukur kemajuan adalah salah?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin memulai dengan kaidah dari Ibnu Khaldun:
المغلوب مولع دائما بتقليد الغالب
“Pihak yang kalah selalu terpesona dan cenderung meniru pihak pemenang”.
Dari sini kita bisa melihat bahwa fenomena ini bukan khas suatu bangsa, melainkan pola yang biasa terjadi ketika peradaban mencapai puncaknya. Sebagai contoh, di masa kejayaan Romawi dan Bizantium banyak jalur perdagangan utama berada di bawah kendali mereka, menjadikan mata uang atau koin Romawi sebagai alat transaksi yang paling sering digunakan, bahkan dalam perdagangan lintas wilayah yang tidak berada di bawah kekuasaan langsung Romawi sekalipun.
Demikian pula dengan berbagai inovasi dalam bidang arsitektur yang banyak diadopsi dan dikembangkan oleh kebudayaan lain dan bertahan sampai saat ini. Seperti “dome” atau kubah yang kemudian berkembang dalam arsitektur Islam, atau “arch” lengkungan yang banyak digunakan dalam gerbang kota, jembatan dan fasilitas publik lainnya.
Hal yang sama juga terjadi ketika Islam berada di puncak kejayaannya, yang ditandai dengan persebaran bahasa Arab dan meningkatnya jumlah pemeluk agama Islam. Prestise dunia Islam mampu memberi pengaruh baik dari selera, gaya hidup, dan etika sosial, baik dalam gaya berpakaian sampai kebersihan. Hal tersebut bisa dilihat dari jenis kain yang didatangkan dari wilayah kekuasaan muslim seperti sutra dari Damaskus atau katun dari Mesir. Demikian pula dengan penggunaan parfum yang telah dikembangkan oleh ilmuwan muslim seperti Alkindi dan Ibnu Sina maupun Jabir ibn Hayyan yang menjadi barang mewah di Eropa.
Tidak selesai di situ, setelah jatuhnya Romawi barat di tangan bangsa barbar, banyak infrastruktur dan kota yang rusak dan mengalami kemunduran, termasuk pemandian umum dan sistem sanitasi saluran air yang ditinggalkan dan mulai hilang di banyak wilayah Eropa. Kehadiran muslim di Andalus berhasil menghidupkan kembali dan mengembangkan fasilitas tersebut, dengan dibangunnya pemandian umum dan sistem sanitasi perkotaan yang lebih baik sebagaimana di masa Romawi.
Pengaruh Islam terhadap ilmu pengetahuan sebenarnya telah banyak dibahas sejarawan, sumbangsih dan pengaruh ilmuwan dan cendekiawan muslim berhasil mengubah wajah Eropa. Salah satu kisah yang saya senangi adalah ketika hubungan diplomatik antara Charlemagne dan Harun ar-Rasyid tidak hanya selesai di meja politik, namun juga dalam bidang keilmuwan. Charlemagne yang berusaha memperbaiki urusan dalam negerinya dan mencontoh keberhasilan Harun ar-Rasyid, pernah mengirim tabibnya sebagai utusan untuk belajar di negeri muslim, salah satu utusan tersebut bernama Ishaq yang merupakan seorang Yahudi.
Setelah empat tahun belajar di negeri muslim, Ishaq akhirnya kembali ke Eropa menghadap ke raja Charlemagne bersama dengan hadiah dari Khalifah yang berupa jam dan kain mewah, yang konon—dalam catatan yang cukup populer—oleh bawahan Charlemagne dipecahkan karena menganggap jam tersebut sebagai sihir dan di dalamnya terdapat setan.
Demikian bagaimana sebuah puncak kejayaan peradaban mampu membuat negara dan kekuasaan lain berusaha meniru dan mencontoh jejak kesuksesan pemegang tampuk peradaban tersebut. Bukan hanya dalam inovasi mereka di bidang politik, ekonomi, sosial dan keilmuwan, tapi juga sampai cara berpakaian, standar gaya hidup, dan etiket ketika makan. Peradaban manusia tidak hanya saling mewarisi dan mengembangkan ide penemuan pendahulunya, namun berusaha menghadirkan identitas dan memberi warna barunya masing-masing.
Harus diakui bahwa peradaban Barat telah membawa banyak kemajuan, berbagai penemuan dan inovasi, serta berhasil mengembangkan ide dan penemuan ilmuwan terdahulu, termasuk ilmuwan muslim yang warisan intelektual mereka telah dikembangkan jauh oleh ilmuwan Barat. Berbagai kemudahan hidup dan fasilitas yang sepertinya tidak terpikirkan oleh ilmuwan terdahulu, sebut saja gadget atau telepon genggam, yang hanya dalam dua dekade telah berkembang jauh dengan berbagai fitur dan kecerdasan buatan. Kemajuan inilah yang kemudian menempatkan Barat sebagai pusat gravitasi baru dalam konstelasi peradaban.
Kemajuan dan pencapaian tersebut, tidak hanya membuat bangsa lain termotivasi untuk menata pemerintahannya sebagaimana Barat, tetapi juga menumbuhkan kecenderungan meniru gaya hidup, budaya serta pola pikir masyarakatnya. Dengan anggapan bahwa seluruh unsur kebudayaan merekalah yang menjadi kunci keberhasilan peradaban tersebut, Persoalan muncul, ketika proses peniruan berlangsung tanpa disertai daya kritis dan pemahaman terhadap nilai budaya, maupun ajaran agama yang dianut. Akibatnya, kebebasan dan kesetaraan yang dipahami secara mentah berpotensi menggeser atau bahkan meninggalkan nilai dan norma yang menjadi landasan hidup masyarakat.
Dari masalah inilah kemudian berkembang pemikiran sekuler di sebagian kalangan intelektual muslim, yang menganggap bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan sosial dan bernegara, begitupun dengan liberalisme dalam agama, yang memandang agama harus ditafsirkan ulang sesuai dengan nilai dan norma zaman modern. Akibatnya nilai-nilai agama hanya terbatas dalam kegiatan spiritual dan mulai terpisah dari kegiatan ekonomi, hukum, bahkan politik.
Namun apabila pandangan bahwa agama harus hadir dalam setiap aktivitas manusia, dianggap sebagai bentuk ketertinggalan, atau Islam dinilai tidak sejalan dengan peradaban dan budaya modern, maka untuk menjawabnya saya mengutip argumen Dr. Sayyid Balath, profesor sejarah Islam Universitas al-Azhar yang menyatakan, “… jika yang mereka maksud dengan peradaban adalah menikmati permainan hawa nafsu, menyebarkan perbuatan keji dan kerusakan moral, melanggar hak dan kebebasan orang lain, dan melupakan sisi spiritual manusia (perintah dan syariat agama), serta tidak terikat dengan norma moral dan agama, maka Islam sebagai agama yang lurus sudah pasti berdiri menentang peradaban semacam itu dan menolak untuk berinteraksi atau berkompromi dengannya.”
Islam sendiri tidak pernah menjadi musuh peradaban, bahkan sangat terbuka dengan berbagai kebudayaan dan inovasi bangsa lain, namun agama yang datang dengan tujuan memperbaiki moral sudah tentu menentang segala bentuk penyimpangan moral dengan mengatasnamakan gaya hidup modern. Karena itu, tantangan kita tidak terletak di antara pilihan menerima atau menolak pengaruh barat, akan tetapi sanggupkah kita membangun kemampuan intelektual untuk memilah unsur-unsur yang mendukung kemajuan tanpa kehilangan identitas?
Sudah sewajarnya kejayaan suatu bangsa tidak hanya membawa dominasi, namun memberi pengaruh dan kecenderungan bangsa lain untuk meniru kebudayaan mereka yang telah berhasil mencapai puncak kejayaan. Tidak ada yang salah dengan meniru barat, namun nilai dan moralitas tetap harus menjadi ruh yang mengisi kehidupan. Semua bisa menjadi peniru tapi tidak semua bisa menjadi peniru yang baik dan mampu membawa bangsanya ke tampuk kejayaan. Demikian gambaran setiap bangsa dalam membawa pengaruh serta mengembangkan penemuan peradaban sebelumnya.
Dalam tradisi intelektual Islam dikenal sebuah ungkapan yang cukup populer yang mengatakan:
خذ من القرآن ما شئت لما شئت
Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa bagi seorang muslim, Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai kitab yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga sebagai sumber nilai yang menuntun arah peradaban. Karena itu, setiap upaya membangun peradaban, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan mengadopsi berbagai kemajuan harus tetap berlandaskan serta berada di bawah bimbingan wahyu.





