Sesi Potret dan Penyesalan Kita

Lagu selalu punya cara yang unik untuk membuka percakapan. Kadang ia datang sebagai hiburan, kadang menjadi teman perjalanan, kadang jadi tempat seseorang berdialog dengan dirinya sendiri. Barangkali itulah mengapa mendengar lirik lagu sering terasa seperti sebuah ritual filosofis yang syahdu. Kita menikmati setiap kata, lalu bertengger di kepala, sampai diam-diam menetap di hati.

Dulu saya mengira lagu hanya dibuat untuk memanjakan telinga. Semakin kesini, anggapan itu berubah. Lagu ternyata bukan hanya untaian kata yang diiringi alat musik saja, melainkan rapalan batin yang ditemani macam rasa. Jadi, terkadang mulut penyanyi melantunkan kata-kata, tetapi di benak pendengar justru yang terlintas adalah bunga-bunga, bawang merah, atau dirinya sendiri.

Kata-kata yang dipilih seorang penulis lagu pasti tidak terlepas dari pengalaman pribadinya. Namun setelah dilepaskan ke hadapan pendengar, ia menjadi milik siapa saja. Setiap orang bebas mengisinya dengan kenangan, kehilangan, dan penyesalannya masing-masing. Barangkali karena itulah satu lagu bisa memiliki ribuan makna dan pengalaman. Mungkin saya mendengar lagu “Tikus-Tikus Kantor” yang teringat adalah Bendahara Organisasi.

Saya merasakan itu ketika mendengar “Sesi Potret” karya eńau dan Ari Lesmana. Entah mengapa lagu ‘kakak beradik’ itu seperti mengutak-atik sesuatu yang terdiam dan tidak terbahasakan di dalam diri. Perasaan semakin berantakan ketika saya melihat seorang teman mengunggah potongan lagu tersebut sebagai backsound sebuah video. Dalam video itu tampak seorang laki-laki berdiri menghadap Kubah Hijau, tepat di depan makam Rasulullah saw. menengadahkan tangan dalam doa.

Saya tidak mengenal siapa orang itu, tetapi sesi potret dengan perpaduan gambar dan lagu tersebut menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan. Kesannya seperti sedang menyaksikan seseorang berbicara kepada seseorang yang tak lagi bisa menjawab. Mungkin lagu ini hendak membicarakan hal yang sama. Tentang satu hal yang paling akrab sekaligus paling dihindari manusia, jarak, kehilangan, dan penyesalan-penyesalan terbesar lainnya.

Sejak manusia pertama diciptakan, hidup memang selalu dipenuhi jarak dan perpisahan. Nabi Adam dipisahkan dari surga. Nabi Yusuf dipisahkan dari ayahnya. Nabi Musa meninggalkan ibunya. Nabi Muhammad saw. kehilangan ayah, ibu, kakek, paman, hingga sahabat-sahabat terbaiknya.

Seiring perjalanan hidup manusia, ia selalu bertumbuh bersama perjumpaan, perpisahan, dan kehilangan yang berkamuflase menjadi penyesalan. Sesi Potret mencoba memahamkan semua itu saat eńau dan Ari mengisahkan seseorang yang bertamu ke rumah baru dan hanya mendapati papan dan nama yang tertinggal.

Memang lagu ini tidak menghadirkan kenangan-kenangan besar yang biasanya melekat pada seseorang. Yang dicari justru ocehan yang dulu mungkin dianggap biasa dan wewangian khas yang nyaris tidak pernah disadari keberadaannya ketika pemiliknya masih hidup. Menariknya, lagu ini ingin menegaskan bahwa manusia lebih sering mengingat kehidupan melalui detail-detail kecil yang terus berulang setiap hari daripada melalui peristiwa-peristiwa besar. Suara yang memenuhi rumah, aroma yang melekat pada pakaian, atau kebiasaan-kebiasaan sederhana lainnya.

Kesadaran itu kemudian berpindah ke ruang yang lebih dekat dengan pengalaman banyak keluarga. “Sesi potret yang selalu kubenci” pada mulanya mungkin hanya dipahami sebagai rutinitas yang tidak perlu-perlu amat atau bahkan membosankan. Tidak sedikit orang yang merasa sesi berfoto hanyalah formalitas setiap hari raya atau acara keluarga. Namun, ketika “susunan barisannya tak sama lagi”, foto akhirnya menjadi sesuatu yang berharga karena merangkum kenangan, kehilangan, dan penyesalan dalam satu bingkai.

Dari seluruh rangkaian liriknya, saya justru merasa lagu ini mencapai titik paling manusiawi ketika mengakui bahwa “tahun lalu, berjuta alasanku”. Alasan itu bisa berupa pekerjaan, keterbatasan biaya, atau penghasilan yang memang pas-pasan. Tidak ada yang keliru dari semua itu karena setiap orang memiliki perjuangannya sendiri.

Namun, lagu ini mengingatkan bahwa waktu tidak pernah mempertimbangkan apakah alasan-alasan tersebut masuk akal atau tidak. Yang penting, ia ingin mengatakan bahwa manusia selalu merasa masih ada kesempatan untuk pulang, masih ada waktu untuk menelepon, dan masih ada hari lain untuk sekadar duduk menemani orang yang dicintainya. Sampai akhirnya kesempatan itu benar-benar habis, sementara alasan yang dahulu terasa begitu kuat perlahan kehilangan muaranya.

Mungkin karena itulah pengakuan bahwa “soal ikhlas, ternyata aku masih amatir” terdengar sangat jujur. Tidak ada manusia yang benar-benar terlatih menghadapi kehilangan. Setua apa pun usia seseorang dan sebanyak apa pun pengalaman hidup yang dimilikinya, setiap perpisahan selalu memaksanya belajar dari awal. Ikhlas adalah proses yang terus menguji manusia setiap kali kehilangan datang menghampirinya.

Lagu ini juga tidak menempatkan jarak sebagai penyebab utama penyesalan. Ada hal lain yang sering kali lebih sulit diatasi, yaitu ketika gengsi menyelimuti seseorang. Ego membuat manusia menunda meminta maaf, menunda menghubungi, menunda mengucapkan rasa sayang, karena selalu ada keyakinan bahwa besok kesempatan itu masih terbuka. Padahal, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui kapan sebuah pertemuan berubah menjadi pertemuan terakhir.

Karena itu, ketika lagu ini berakhir dengan penyesalan karena tak sempat menemani dan membisikkan kata ajaib ke telinga orang yang telah pergi, saya tidak lagi memaknainya sebagai keinginan mengucapkan sesuatu yang luar biasa. Kata ajaib itu mungkin hanyalah kalimat-kalimat yang selama ini terlalu sering ditunda seperti permintaan maaf, ucapan terima kasih, doa, pengakuan bahwa seseorang begitu berarti dalam hidup kita atau sekadar memanggil sapaan tersayang.

Di situlah “Sesi Potret” menjadi menarik sampai mengganggu pikiran saya. Selain bercerita tentang kepergian seseorang, eńau dan Ari juga menangkap cara manusia memaknai waktu. Kematian hanyalah peristiwa yang membuka kesadaran bahwa banyak hal yang paling penting dalam hidup justru kerap ditunda karena kita terlalu yakin bahwa hari esok akan selalu memberi kesempatan yang sama.

Sisi lain yang membuat menarik lagu ini adalah eńau dan Ari menggubah lirik-liriknya dengan menyembunyikan sosok yang dirindukan. Kita tidak pernah diberi tahu siapa yang meninggal. Tidak ada kata “ibu”, “ayah”, “istri”, “anak”, atau “sahabat”. Lagu ini tidak menunjuk satu orang, tetapi membuka pintu bagi semua kehilangan.

Dan mungkin di situlah kekuatan sesungguhnya sebuah karya. Ia tidak memaksa kita memahami pengalaman penciptanya, melainkan diam-diam membantu kita memahami pengalaman kita sendiri. Jadi, wajar saja ketika mendengarkan lagu ini, kita justru membawanya kepada hal yang berbeda dari penciptanya.

Tulisan ini pun lahir dari kesadaran yang sama. Sebab saya menyadari, masih ada begitu banyak orang yang belum pernah mendapat “sesi potret” di galeri hidup saya. Masih ada pelukan yang terus ditunda, telepon yang belum sempat dilakukan, dan kata-kata sederhana yang belum pernah terucap. Tentang penyesalan, pada akhirnya kita hanya selalu berdoa dan berharap, sekalipun kita masih berada di jalan-jalan yang salah.

Rupanya kita memang perlu memotret penyesalan. Biar kita tahu “mata” mana yang masih tertutup dari keikhlasan, atau “pundak” yang masih miring ditindih oleh dosa-dosa, bahkan “rambut” yang mungkin masih acak-acakan ditiup oleh angin masa lalu.

Ryan Saputra

Sedang menekuni kajian tafsir Al-Qur'an. Cuman kadang nyasar ke bahasan bola, budaya, bahkan presiden. Penulis bisa disapa lewat Instagram @ryansaputraaa_. Salam kenal ceng!

Related Posts

Konstelasi Budaya di Langit Peradaban

Pernah dengar kalimat “Kalau ingin maju, kita harus meniru Barat” atau “Kalau ingin terlihat modern, kita harus meniru cara hidup dan budaya Barat” atau berbagai ungkapan serupa, seolah menggambarkan bahwa…

Baca seterusnya

Prabowo Islam?

Kalau ditanya jujur, saya tidak pernah tertarik apalagi terpikirkan untuk mengulik sisi keislaman Prabowo. Bukan karena benci ataupun alasan lain, tapi memang citra yang dibangun sejak dulu adalah ia seorang…

Baca seterusnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *