Tiba-tiba Kepikiran Masalah Hidup Saat Piala Dunia

Salah satu kenikmatan yang sampai saat ini saya tidak ingin Allah cabut dari kehidupan saya adalah nonton bola. Kalau ditanya, apakah saya pengamat bola atau penikmat bola, maka jelas saya hanya penikmat. Saya lebih suka menikmati jalannya pertandingan, melihat taktik dan strategi bermain, hingga bersorak ria saat merayakan kemenangan dan terkadang mengumpat sana sini saat ditampar oleh kekalahan.

Kenikmatan tersebut membubung tinggi saat terjadi di Mesir. Olahraga yang katanya penuh dengan permainan licik di balik layar—baik kepentingan politik maupun bisnis—semuanya jadi tersisihkan saat permainan itu ditayangkan di layar TV sederhana di tengah kumpulan manusia yang mengisap shisa, melempar domino, atau sekadar menikmati pekatnya teh Arusah dan membersihkan mulut dari ampas faransawi.

Nonton bola di Mesir bagi saya adalah salah satu pengalaman spiritual. Teriakan takbir menggema saat bola menjebol gawang lawan atau hembusan istigfar terdengar ketika sebuah kesalahan yang semestinya tidak terjadi, adalah rapalan zikir yang selama ini diajarkan oleh ustaz untuk didawamkan. Rupanya, orang Mesir memberikan pelajaran bahwa sepak bola bisa begitu religius.

Sekalipun umpatan-umpatan kadang terdengar beriringan dengan kalimat suci itu, sang komentator cukup membantu “menyapu” suasana murka menjadi tenang lewat penggalan-penggalan magisnya: hasbunallah wa ni’mal wakil, kutipan ayat Al-Qur’an, atau doa-doa pendek yang mengalir mengikuti jalannya pertandingan sebagaimana sorak-sorai penonton di tribun.

Itulah yang membuat saya sampai detik ini, masih senang menonton siaran Arab dibandingkan yang lain, karena permainan tersebut membuat saya semakin dekat dan ingat akan Yang Maha Kuasa. Tidak berlebihan jika Idris Maqbul, seorang akademisi dan pemikir Maroko mengatakan bahwa memang sepak bola telah menjadi ibadah baru bagi manusia modern saat ini.

Semakin ke sini, pengalaman itu kemudian membuat saya kepikiran kalau sepak bola telah menjadi ruang membentuk sebuah keyakinan yang diam-diam membeku dalam bingkai identitas. Terlepas dari sejarah panjang sepak bola, cucuran keringat dua puluh dua pemain di lapangan hijau tidak hanya melahirkan kemenangan atau kekalahan, tetapi juga mengukuhkan posisi identitas di atasnya.

Sebut saja potret tim nasional Mesir di Piala Dunia 2026, yang menyimpan begitu banyak simbol laku dan kata yang lekat dengan Islam: seorang ofisial menggenggam Al-Qur’an, sujud syukur setelah mencetak gol, membaca Al-Fatihah sebelum pertandingan, hingga beberapa pemain yang mengaji di ruang ganti. Semua itu bentuk ekspresi identik yang tampak mengalir sebagaimana kewajiban mereka sebagai muslim, sekalipun di lapangan hijau.

Karena itu, jangan heran jika hari ini masyarakat Mesir ditanya, “Pilih Ronaldo atau Messi?” Maaf-maaf saja, kedua nama itu tidak lagi menjadi pusat kekaguman mereka. Apalagi Messi yang masih menyisakan luka setelah menyingkirkan Mesir di babak enam belas besar Piala Dunia. Mereka lebih bangga kepada putra bangsanya sendiri, Mohamed Salah yang bersinar di Liga Inggris. Namun, yang lebih menarik daripada kebanggaan itu adalah bagaimana Salah terpotret sebagai muslim yang teguh merawat nilai-nilai Islam di lapangan tanpa rasa canggung.

Sebuah penelitian dari Laboratorium Kebijakan Keimigrasian Universitas Stanford menunjukkan bahwa sejak Salah bergabung dengan Liverpool, tingkat Islamofobia dan kejahatan rasial di Inggris, terutama di Merseyside, mengalami penurunan. Sebagaimana pernah ditulis Tempo, aksi-aksi simbolik Salah seperti sujud syukur berhasil mengikis sebagian stigma negatif terhadap Islam.

Saking berpengaruhnya, fans Liverpool punya chant (lagu tribun) yang menggambarkan kekaguman mereka dengan perilaku Salah. Bunyinya seperti ini: “If he scores another few, then I’ll be Muslim too! Sitting in a mosque, that’s where I wanna be”, yang artinya kalau dia (Salah) cetak gol lagi, saya mau masuk Islam juga. Duduk di masjid, di sanalah tempat yang saya mau.

Fenomena tersebut menjadi salah satu fakta yang mendorong banyak peneliti mulai melihat hubungan sepak bola dan Islam secara lebih serius. Kamaludeen Nasir, profesor sosiologi dari Singapura, misalnya, melalui bukunya Dribbling Divides: Football, Islam, and Identity, menjelaskan bagaimana sepak bola global bersinggungan dengan agama, politik, media digital, hingga menguatnya populisme.

Melalui berbagai studi kasus pesepak bola muslim, ia menunjukkan bagaimana mereka mempertahankan kesalehan di tengah Islamofobia, tuntutan profesionalisme, dan identitas kebangsaan. Di lapangan maupun di media sosial, mereka tidak sekadar bermain bola, tetapi juga bernegosiasi, melakukan perlawanan, bahkan menafsirkan ulang identitas.

Meski demikian, semakin lama saya memikirkan sepak bola, semakin saya merasa bahwa identitas hanyalah salah satu sisi dari permainan ini. Ada lapisan lain lebih mendalam sekaligus menjadi jawaban kenapa olahraga ini begitu digemari dan diterima oleh seluruh kalangan. Bahwa, sepak bola dapat dibaca sebagai metafora kehidupan.

Di lapangan, dua tim saling berebut bola demi satu tujuan, yakni mencetak gol. Namun, setiap langkah menuju gawang lawan selalu dihadang oleh pemain lain yang berusaha menggagalkan usaha tersebut. Bukankah hidup juga demikian? Setiap orang memiliki cita-cita, tetapi jalan menuju tujuan hampir selalu dipenuhi rintangan, persaingan, dan ujian yang menuntut kesabaran serta keteguhan hati.

Analogi itu semakin terasa ketika berbicara tentang aturan permainan. Dalam sepak bola ada wasit yang memastikan pertandingan berjalan sesuai regulasi. Ia berhak memberikan peringatan, kartu kuning, bahkan kartu merah kepada siapa pun yang melanggar. Keputusannya harus dihormati oleh semua pemain. Kehidupan pun memiliki “wasit” yang mengatur jalannya permainan, yaitu Allah Swt. Tapi, tentu Allah Swt. tak bisa dibayar untuk meloloskan kepentingan-kepentingan tertentu.

Sebagai hamba, kita hanya bisa melobinya lewat ketaatan dan rapalan doa. Aturan-Nya telah termaktub dalam kitab suci dan menjadi pedoman bagi manusia. Jika peluit wasit menandai dimulainya pertandingan, maka kelahiran adalah peluit pertama kehidupan. Sebaliknya, kematian adalah peluit panjang yang mengakhiri seluruh pertandingan.

Dalam sepak bola, mencetak gol adalah tujuan utama. Dalam kehidupan, setiap orang juga memiliki “gol” yang berbeda-beda. Ada yang mengejar ilmu, rezeki, keluarga, maupun pengabdian kepada masyarakat. Apa pun bentuknya, semua tujuan itu tidak akan diraih tanpa perjuangan. Sebagaimana pemain harus melewati lawan sebelum mencetak gol, manusia pun harus siap menghadapi berbagai kesulitan agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan.

Namun, jalan menuju tujuan tidak dapat ditempuh dengan cara apa pun. Ada aturan offside yang melarang pemain mengambil keuntungan secara curang. Kehidupan bak dipenuhi “jebakan offside“. Godaan mengambil jalan pintas, menghalalkan segala cara, atau melanggar aturan selalu datang ketika seseorang ingin instan mencapai keinginannya. Mereka yang memahami batas-batas yang telah ditetapkan agama akan lebih berhati-hati agar tidak terjebak pada pelanggaran yang justru merugikan dirinya sendiri.

Permainan ini juga mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah dibangun oleh satu orang saja. Sebagus apa pun seorang penyerang, ia tetap membutuhkan umpan dari rekan-rekannya. Gol lahir dari kerja sama, bukan dari ego. Begitu pula kehidupan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin memenuhi seluruh kebutuhannya sendirian. Berbagi, saling membantu, dan saling menguatkan adalah syarat agar pertandingan kehidupan dapat dimenangkan bersama.

Karena itu, hidup layaknya pertandingan sepak bola yang waktunya sangat singkat. Kita dituntut menjadi pemain yang mampu menguasai bola, memainkan strategi dengan baik, mematuhi aturan, serta tahu kapan harus mengoper kepada orang lain. Keberhasilan bukan hanya diukur dari seberapa banyak “gol” yang kita cetak, melainkan juga dari seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada sesama selama pertandingan berlangsung.

Pada akhirnya, sepak bola memang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang disiplin, sportivitas, kesabaran, solidaritas, dan ketundukan kepada aturan. Mungkin itulah sebabnya sepak bola selalu menemukan jalannya untuk bersinggungan dengan agama. Sebab, baik agama maupun sepak bola sama-sama mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukanlah tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang bagaimana kita memainkan pertandingan dengan cara yang benar.

Jadi, tidak berlebihan jika Gus Dur pernah nyeletuk, “Bukankah kita akan diperkaya dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia oleh sesuatu yang terjadi di lapangan sepak bola? Sepak bola merupakan bagian kehidupan atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepak bola?”. Wallahu a’lam.

Ryan Saputra

Sedang menekuni kajian tafsir Al-Qur'an. Cuman kadang nyasar ke bahasan bola, budaya, bahkan presiden. Penulis bisa disapa lewat Instagram @ryansaputraaa_. Salam kenal ceng!

Related Posts

Merefleksikan Islam Melalui Masa Kanak-Kanak

Persahabatan kanak-kanak adalah masa lalu sekaligus cermin yang memantulkan rentetan masa depan yang panjang. Baco, temanku, kini seorang pedagang di sebuah kapal feri yang berlayar dari pelabuhan penyebrangan Bajoe ke…

Baca seterusnya

Wanita Berkemas dengan Harga Diri Mereka

Penulis: Muhammad Ilham Pratama Sebuah peradaban besar hadir ketika kita membahas manusia terkhusus perempuan. Banyak paradigma mengenai mereka berseliweran, menimbulkan berbagai pertanyaan dan misteri yang belum terpecahkan hingga kini. Kedudukan…

Baca seterusnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *